Film Silariang sebagai 'Lesson-Learn' untuk Anak Muda

FILM Silariang: Cinta yang [Tak] Direstui juga menghadirkan jurnalis, sastrawan sekaligus Budayawan Muhary Wahyu Nurba.

Film Silariang sebagai 'Lesson-Learn' untuk Anak Muda
HO
Muhary Wahyu Nurba berperan sebagai Pak Dirham 

TRIBUNKALTIM.CO - FILM Silariang: Cinta yang [Tak] Direstui juga menghadirkan jurnalis, sastrawan sekaligus Budayawan Muhary Wahyu Nurba. Dalam film ini ia berperan sebagai Pak Dirman, ayah dari Yusuf ( Bisma Karisma). Berikut ini wawancara dengan Muhary Wahyu Nurba tentang peranannya dalam film pertamanya ini.

Apa peran Anda dalam film ini?
Saya berperan sebagai Pak Dirham, seorang pengusaha kaya Makassar. Seorang lelaki yang punya kisah cinta yang suram di masa silam.

Bagaimana karakter Pak Dirham?
Ya tipikal orang kaya. Setiap geraknya terukur. Selalu terlihat rapi dengan rambut tertata. Pak Dirham punya karisma sehingga orang-orang hormat padanya. Bicaranya keras. Meski begitu, dia tetap sayang keluarganya. Pak Dirham dulu di masa mudanya pernah jatuh cinta kepada seorang perempuan bangsawan Bone tapi ditolak dan kemudian memilih menceburkan diri dalam dunia bisnis dan sukses. Ketika kejadian berulang pada anaknya, Yusuf, Pak Dirham berusaha meyakinkan anaknya untuk melanjutkan keinginannya. Tapi Yusuf dan Zulaika yakin dengan cinta mereka memilih silariang atau kawin lari.

Apa kesulitan memerankan Pak Dirham?
Mungkin soal karisma itu tadi ya. Jadi bukan hanya karena berpakaian rapi, gadget mahal, rambut ala modern, dan seterusnya, tapi lebih pada bagaimana memunculkan karakter. Sulit karena ini peran pertama saya di layar lebar. Berbeda bila tampil di panggung teater. Dalam film, kesalahan kecil akan terlihat wajah kita atau gerak gerik kita akan terlihat jelas di layar.

Pesan apa yang ingin disampaikan lewat film ini?
Silariang dalam budaya Bugis-Makassar merupakan aib bagi keluarga. Mereka yang melakukan akan di-paopangi tana (dihapus dari garis keluarga). Dan resikonya adalah mereka harus menanggung malu dan harus terus bersembunyi dari kejaran tomasiri' (keluarga yang dipermalukan). Sebab dimanapun ditemukan akan dibunuh kecuali bila mereka ma'baji' (saling berdamai antarkeluarga).
Tema ini merupakan fenomena budaya yang ada di Bugis-Makassar. Sejatinya berkonotasi negatif karena seakan memberi contoh untuk kawin lari. Sebetulnya yang hendak ditawarkan adalah semacam lesson-learn agar baik orang tua maupun anak memahami kondisi yang akan terjadi bila perkawinan disulitkan dan menemui jalan buntu. Semestinya orang tua tidak lagi melihat perbedaaan kasta, faktor ekonomi, dan sebagainya. Juga edukasinya kepada anak bahwa bila mereka memaksakan kehendak untuk silariang, maka banyak resiko yang akan mereka terima. Mereka akan tersangkut hukum adat.
Jadi sama sekali tidak diajarkan untuk kawin lari tetapi kami mencoba untuk melihat kembali seperti apa hukum yang dulu berlaku di dalam masyarakat Bugis-Makassar. Mungkin sekarang tidak lagi yang menerapkan hukum ini tetapi sisi positifnya adalah, ini yang kami harapkan, bahwa penonton mengambil pelajaran sehingga lebih bijak melihat fenomena budaya ini.

Tujuan Muhary bergabung dalam produksi ini?
Mari datang menonton. Ini karya anak bangsa. Mari kita sama-sama mengapresiasi film nasional. Saya berterima kasih diberi kesempatan untuk menunjukkan kemampuan saya. Ya saya berharap akting saya berterima dengan penonton semua. Aamiin. (*)

Penulis: Jino Prayudi Kartono
Editor: Rita
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help