Tradisi Bangun Pagi Lebih Awal untuk Anak

"BANGUN siang, rezeki dipatuk ayam", bunyi sebuah pepatah lama. Secara tersirat dan tersurat, pepatah tersebut menganjurkan untuk bangun lebih awal

Tradisi Bangun Pagi Lebih Awal untuk Anak
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi 

Oleh Fransiska

Fransisca
Fransisca (HO)

TRIBUNKALTIM.CO- "BANGUN siang, rezeki dipatuk ayam", bunyi sebuah pepatah lama. Secara tersirat dan tersurat, pepatah tersebut menganjurkan setiap orang untuk bangun lebih awal di pagi hari. Ya, termasuk anak-anak meski mereka belum memasuki usia sekolah. Bagi yang belum sekolah sebagai sarana melatih diri agar terbiasa bangun pagi hingga tidak kesulitan saat memasuki bangku sekolah. Anak sekolah perlu bangun awal agar tidak tergesa-gesa ke sekolah, tidak tertinggal perangkat sekolah dan sempat sarapan. Jadi, tidak hanya orangtua yang akan berangkat bekerja mencari nafkah yang perlu bangun awal.

Bangun lebih awal jelas memiliki manfaat daripada bangun siang yang sering disebut "bangkong". Udara pagi masih segar, jauh dari paparan polusi udara seperti asap dan debu. Udara segar baik untuk sistem respirasi atau pernafasan. Sebaliknya, udara siang sudah terpapar polusi udara akibat beragamnya aktivitas manusia. Selain itu pada pagi hari, sinar matahari banyak mengandung vitamin D yang berguna untuk pertumbuhan tulang dan gigi. Berjemur atau menghangatkan diri di bawah sinar matahari sangat dianjurkan untuk segala usia. Di pagi hari, tenaga masih penuh dan pikiran belum terlalu kusut dikarenakan tugas, pekerjaan atau kelelahan fisik.

Meski menyadari akan pentingnya bangun lebih awal masih ada sejumlah orangtua yang mengalami kesulitan untuk membuat buah hatinya bangun pagi. Tidak sedikit orangtua yang rajin bangun pagi namun buah hatinya sebaliknya. Namun, tidak sedikit pula buah hatinya mudah bangun lebih awal daripada orangtuanya. Apapun kendala yang dihadapi baik dari pihak orangtua maupun buah hati dalam hal bangun lebih awal perlu diatasi.
Bagaimana cara agar buah hati terbiasa bangun lebih awal? Berikut diantaranya:

1. Contohkan
Orangtua harus bangun lebih awal setiap harinya dan mengajak serta buah hatinya untuk bangun lebih awal meski di akhir pekan yang bebas dari jam kantor dan sekolah sekali pun.

2. Jauhkan dari perangkat elektronik
Saat jam dinding sudah menunjukkan waktu tidur malam segera matikan televisi, laptop atau gawai. Apabila orangtua masih ada pekerjaan yang ingin diselesaikan sebaiknya antarkan buah hati tidur terlebih dulu baru melanjutkan menyelesaikan pekerjaan tersebut.

3. Tegas Jam Tidur
Buat aturan di rumah tentang waktu tidur malam. Usahakan setiap harinya dilaksanakan. Jika buah hati masih belum mengantuk kondisikan agar mereka mengantuk. Misalnya dengan mematikan lampu terang kamar, memasang lampu tidur, membacakan buku, mendongengkan atau mengelus-elus punggung mereka seraya berdendang lagu anak seperti lagu Nina Bobok atau hafalan surat Al-Quran. Jangan lupa ajak anak memanjatkan doa tidur bersama. Dengan tercukupinya kebutuhan tidur buah hati, mereka akan lebih mudah bangun lebih awal.

4. Berikan reward
Apabila anak mampu bangun lebih awal secara rutin, orangtua dapat memberikan reward. Tidak harus materi, bisa dengan memasakkan makanan kesukaannya atau yang lainnya yang menunjukkan apresiasi orangtua akan keberhasilan buah hatinya bangun lebih awal setiap hari.

5. Pastikan perut tidak lapar.
Apabila buah hati lapar, mereka cenderung sulit tidur. Jadi, pastikan buah hati makan malam terlebih dulu. Namun, perlu diingat jangan sampai kekeyangan. Kekeyangan juga dapat mengakibatkan sulit tidur atau gelisah saat tidur. (*)

Editor: Rita
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved