TribunKaltim/

Penderita Difteri Terus Bertambah, DKK: Masih ada Sekolah Menolak Vaksinasi

Di Samarinda, masih ada masyarakat yang anti terhadap vaksin. Bahkan, ada sekolah yang menolak pelajarnya di vaksin.

Penderita Difteri Terus Bertambah, DKK: Masih ada Sekolah Menolak Vaksinasi
Grafis Tribunkaltim.co/ Arief Zulkifli
Ilustrasi Difteri 

SAMARINDA, TRIBUN - Penderita difteri di Samarinda terus bertambah. RSUD AW Syahranie Samarinda kini sudah menerima 18 pasien. Dari jumlah tersebut, 8 diantaranya sudah dinyatakan positif difteri. Sedangkan 10 lainnya masih terindikasi difteri.

Plt Kepala Dinas Kesehatan (DKK) Samarinda, Rustam, meminta masyarakat tak panik dengan meningkatnya angka penderita difteri di Kota Tepian. Rustam menjelaskan, penyakit difteri disebabkan oleh bakteri dan bisa disembuhkan. "Tidak perlu panik. Difteri bisa disembuhkan, karena bukan disebabkan virus," kata Rustam.

Baca: RSUD AW Syahranie Hanya Bisa Tampung 5 Pasien Difteri Lagi

Baca: Satu Pasien Difteri Membaik, tapi RSUD AW Syahranie mulai Kesulitan Siapkan Ruang Isolasi

Yang perlu dilakukan masyarakat, kata Rustam, adalah menghindari tempat keramaian jika tak diperlukan. Saat bepergian senantiasa menggunakan masker. "Hindari kontak tertentu dengan yang diduga difteri," katanya lagi.

Rustam berharap, masyarakat bisa mengambil pelajaran dari kasus difteri ini. Betapa imunisasi sangat penting. Di Samarinda, kata Rustam, masih ada masyarakat yang anti terhadap vaksin. Bahkan, ada sekolah yang menolak pelajarnya di vaksin.

Perawat mengantarkan makanan untuk pasien suspect difteri yang dirawat di ruang isolasi yang ada di ruang anak RSUD AW Syahranie Kota Samarinda, Jumat (5/1/2018).
Perawat mengantarkan makanan untuk pasien suspect difteri yang dirawat di ruang isolasi yang ada di ruang anak RSUD AW Syahranie Kota Samarinda, Jumat (5/1/2018). (TRIBUN KALTIM/DOAN PARDEDE)

"Semoga mata masyarakat terbuka. Kita sampai datang ke rumah-rumah untuk mengajak masyarakat ikut imunisasi. Kita bujuk-bujuk. Ada juga sekolah yang menolak vaksinasi," ungkap Rustam.

Sejatinya, kata Rustam, pemerintah menyediakan vaksinasi gratis. Di puskesmas, posyandu, puskesmas pembantu. Kemudian kita juga datang ke sekolah-sekolah untuk vaksin. Tapi itu terjadwal semua," tutur Rustam. (rad)

Penulis: Rafan Dwinanto
Editor: Adhinata Kusuma
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help