TribunKaltim/

RSUD AW Syahranie Hanya Bisa Tampung 5 Pasien Difteri Lagi

Jumlah pasien difteri yang dirawat di ruang-ruang isolasi di RSUD AW Syahranie, Kota Samarinda, Jumat (12/1) sore, membengkak menjadi 18 orang.

RSUD AW Syahranie Hanya Bisa Tampung 5 Pasien Difteri Lagi
TRIBUN KALTIM / DOAN E PARDEDE
Ruang isolasi di salah ruang anak yang ada di RSUD AW Syahranie Samarinda, Selasa (9/1/2018). 

SAMARINDA, TRIBUN -Jumlah pasien difteri yang saat ini dirawat di ruang-ruang isolasi yang ada di RSUD AW Syahranie, Kota Samarinda, Jumat (12/1) sore, membengkak menjadi 18 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 8 diantaranya terkonfirmasi positif terjangkit wabah difteri. Sementara sisanya, yakni 10 orang masih diduga terjangkit (suspect) difteri.

Secara keseluruhan, rentang usia pasien dari antara 1 tahun 9 bulan hingga 22 tahun. Sebelumnya, pada Selasa (9/1) lalu, jumlah pasien yang dirawat karena bakteri hanya sebanyak 6 orang saja. Rinciannya, 5 sudah terkonfirmasi difteri dan 1 lagi masih suspect.

Kepala Unit Humas RSUD AW Syahranie dr Fabian Satrio di RSUD AW Syahranie menyampaikan, rata-rata, pasien yang baru masuk ini sebagian besar rujukan dari tenaga-tenaga kesehatan yang ada di Kota Sanarinda, yang memang sudah dicurigai terjangkit wabah difteri.

Baca: VIDEO - Jumlah Pasien Difteri yang Ditangani RSUD AWS Meningkat hingga 18 Orang, Ini Penjelasannya

Baca: Cegah Penyebaran Difteri, DKK Vaksin Seluruh Sekolah Ini, Satpam dan Penjaga Kantin Juga

Baca: DKK Samarinda Periksa Tetangga Ibu Hamil Yang Terjangkit Difteri, Ini Hasilnya

"Yang baru masuk semuanya warga Kota Samarinda. Dan rata-rata memang rujukan dari tenaga-tenaga kesehatan yang ada, sudah dicurigai difteri," ujar.

Sama seperti sebelumnya, jelas Fabian, walau sudah ada pasien yang terkonfirmasi difteri, jelas Fabian, status Kejadian Luar Biasa Belum (KBL) memang belum bisa ditetapkan.

Pasalnya, untuk menentukan KLB atau tidak, metode pemeriksaan yang dilakukan berbeda. RSUD AW Syahranie memakai pemeriksaan mikroskopis, sementara untuk KLB, sesuai Peraturan Menteri Kesehatan harus menggunakan uji kultur yang memang harus dilakukan di laboratorium di Pulau Jawa.

Kepala Unit Humas RSU AW Syahranie, M. Fabian Satrio saat menjelaskan terkait Difteri di RS AW Syahranie Samarinda, Jumat (12/1/2018).
Kepala Unit Humas RSU AW Syahranie, M. Fabian Satrio saat menjelaskan terkait Difteri di RS AW Syahranie Samarinda, Jumat (12/1/2018). (tribunkaltim.co/anjas pratama)

Dan biasanya, kata Fabian, hasil uji kultur ini akan memperkuat hasil pemeriksaan mikroskopis. "Kalau di sini (RSUD AW Syahranie), kita belum bisa uji kultur," ujarnya.
Fabian juga menyampaikan, membludaknya pasien ini sudah membuat pihaknya kewalahan untuk menyiapkan ruangan.

Halaman
12
Penulis: tribunkaltim
Editor: Adhinata Kusuma
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help