Tak Mampu Berkata-kata Saat Jenazah Tiba, Agustina Hanya Bisa Menitikkan Air Mata

Juari memohon, kepada seluruh masyarakat Malinau yang mengenal almarhum Paulus Lakai untuk memaafkan kesalahan selama ia hidup

Tak Mampu Berkata-kata Saat Jenazah Tiba, Agustina Hanya Bisa Menitikkan Air Mata
ISTIMEWA
Ilustrasi: pencarian korban tenggelam di sungai 

SEPERTI biasanya hari itu, suami tercinta berpamitan pergi ke ladang untuk melihat kondisi padi. Biasanya, istri menemani suami ke ladang. Namun, karena suatu hal membuat istri tak turut suami. Hingga berita mengejutkan soal perahu yang ditumpangi sang suami karam datang, istri dari Almarhum Paulus Lakai berdua dengan anak di rumah.

MENANGIS dan hanya bisa berdoa. Itulah yang dilakukan istri korban, Agustina saat menunggu tim SAR gabungan mencari sampai menemukan jenazah korban. Ditemani oleh kerabat dan seorang anak, Agustina terus menanti kedatangan jenazah suami tercinta dari RSUD Malinau ke rumah duka.

Tangis histeris mewarnai rumah duka, di RT 8, Desa Tanjung Lapang, Kecamatan Malinau Barat, saat jenazah tiba. Hampir tidak dapat berkata-kata, dan hanya menitikan air mata. Sering kali, Agustina berada di sebelah peti jenazah dan memeluk suami tercinta yang ada di dalamnya.

Beberapa kali kerabat dekat meminta dan membujuk Agustina agar beristirahat. Anak laki-laki dari korban berusia 8 tahun setia bersama ibunda, dan menemaninya saat beristirahat. Meskipun belum mengerti benar tentang situasi di rumah saat itu, tangisnyapun tidak terhindarkan dari anak kelas 2 SD tersebut.

Adik korban, Juari Lakai saat ditemui mengungkapkan, Paulus Lakai merupakan sosok bersahaja, baik dan memiliki sifat tolong menolong yang tinggi. Tidak ada firasat apapun saat kejadian perahu ketinting yang ditumpangi saudaranya itu karam. Mendapatkan kabar buruk itu, Juari yang juga Camat Malinau Selatan Hulu itu langsung pulang.

"Biasanya, memang saya bertahan di tempat tugas. Kalau mau turun ke Malinau kan jauh. Tapi, saat mendengar kabar itu, saya langsung turun ke Malinau sore itu juga. Padahal, jalan melewati hutan itu banyak rusak dan gelap. Namun, saya ingin membantu pencarian kakak saya di Sungai Malinau," ujar Juari di rumah duka, kemarin.

Masih tampak merah di matanya, Juari memohon, kepada seluruh masyarakat Malinau yang mengenal almarhum Paulus Lakai untuk memaafkan kesalahan selama ia hidup. Terutama, seluruh masyarakat di Desa Tanjung Lapang dan sekitarnya. Ia juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh tim SAR gabungan yang melakukan pencarian selama dua hari ini.

"Jika selama hidup, almarhum ada melakukan hal-hal yang kurang berkenan di hati, baik melalui perbuatan, perkataan dan pergaulan tidak berkenan di hati bapak, ibu dan saudara-saudara terkasih, kami atas nama keluarga memohon maaf sebesar-besarnya. Ungkapan terimakasih sebesar-besarnya kepada tim SAR gabungan. Hanya Tuhan YME yang dapat membalasnya," ucapnya.

Juari menuturkan, keseharian almarhum kakaknya adalah petani. Pada hari itu, korban bersama penumpang perahu lainnya selesai berladang. Seperti biasa, sore menjelang malam mereka pulang dengan cara menyeberang sungai menggunakan perahu ketinting. Namun, saat itu perahu karam. "Direncanakan, jenazah akan disemayamkan di rumah duka dulu. Kemudian, keesokan harinya (hari ini) jenazah akan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Nasrani," ujarnya. (*)

Penulis: Purnomo Susanto
Editor: Mathias Masan Ola
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved