Diskusi Publik di PB IDI

Awas Fenomena Dokteroid, Praktek Kesehatan yang Membayakan Pasien!

PB IDI mengingatkan kepada masyarakat Indonesia terhadap bahaya dokteroid, yaitu pratik kesehatan yang dilakukan oleh bukan dokter dan ahlinya.

Awas Fenomena Dokteroid, Praktek Kesehatan yang Membayakan Pasien!
istimewa
Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Prof. Dr Ilham Oetama Marsis, SpOG sedang diwawancara wartawati, pada acara diskusi public: Ancaman Dokteroid bagi Kesehatan Masyarakat, di sekretariat PB IDI, Jakarta, Kamis (01/02/2018). 

JAKARTA, TRIBUN-- Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB-IDI) mengingatkan kepada seluruh masyarakat agar berhati-hati terhadap praktik dokteroid, yaitu melakukan pratek dokter dan kesehatan tetapi sesungguhnya pelaku bukan dokter.

Pernyataan ini disampaikan Ketua Umum PB IDI, Prof. Dr Ilham Oetama Marsis, SpOG, saat membuka acara diskusi publik bertema: Ancaman Dokteroid bagi Kesehatan Masyarakat, di sekretariat PB IDI, Jakarta, Kamis (01/02/2018).

Marsis menjelaskan bahwa praktik itu berfokus pada orang bukan dokter, ternyata berani berperilaku layaknya dokter bahkan ada yang berani buka praktik dan mendirikan klinik sendiri. Namun lebih dari itu, orang yang layaknya berperilaku dokter kerap mendapat banyak undangan menjadi narasumber atau pembicara suatu acara kesehatan, “Padahal, sebenarnya ia tidak punya kompetensi apapun sebagai dokter,” tuturnya.

Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Prof. Dr Ilham Oetama Marsis, SpOG sedang diwawancara wartawati, pada acara diskusi public: Ancaman Dokteroid bagi Kesehatan Masyarakat, di sekretariat PB IDI, Jakarta, Kamis (01/02/2018).
Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Prof. Dr Ilham Oetama Marsis, SpOG sedang diwawancara wartawati, pada acara diskusi public: Ancaman Dokteroid bagi Kesehatan Masyarakat, di sekretariat PB IDI, Jakarta, Kamis (01/02/2018). (istimewa)

Baca: Bupati Kumpulkan Dokter Spesialis, Setuju Bagi Dana Rp 8,2 Miliar!

Baca: Tragis! Tolak Lamaran Seorang Pria, Mahasiswi Kedokteran Tewas Ditembak di Depan Rumahnya

Baca: Puskesmas Sanur di Nunukan Disebut tak Layani Pasien BPJS, Dokter Syaifuddin: Ada Kesalahpahaman

"Kami menyebut, seseorang yang bukan dokter, lalu bertindak sebagaimana dokter (sungguhan) itu namanya dokteroid. Mungkin istilah ini masih belum banyak di dengar masyarakat ya," kata Prof Marsis.

Dia melanjutkan untuk menjalankan praktik kedokteran, seseorang harus punya Surat Tanda Registrasi (STR). Untuk mendapatkan STR, seseorang harus punya ijazah kedokteran dan sertifikasi kompetensi, yang diterbitkan Kolegium (bagian dari IDI).

Dalam kasus dokteroid, Marsis memberikan contoh kasus yang pernah terjadi Mei 2017, dokter kecantikan palsu, saat aparat keamanan mengamankan seorang pelaku yang berpraktik di toilet sebuah mall di Jakarta Pusat.

"Kemudian Juni 2017 lalu. Kami juga mendengar ramai di pemberitaan kasus Jeng Ana, yang memberikan pendapat medis dan memeriksa pasien. Padahal, yang bersangkutan tidak punya kompetensi pada bidang (kedokteran)," tambah Marsis.

Suasana diskusi publik tentang kesehatan di sekretariat PB IDI, Jakarta, Kamis (01/02/2018), dengan tema:Ancaman Dokteroid bagi Kesehatan Masyarakat.
Suasana diskusi publik tentang kesehatan di sekretariat PB IDI, Jakarta, Kamis (01/02/2018), dengan tema:Ancaman Dokteroid bagi Kesehatan Masyarakat. (istimewa)
Halaman
123
Penulis: Priyo Suwarno
Editor: Priyo Suwarno
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help