Maret, DAK Pengiriman Obat ke Pedalaman Malinau Mulai Berjalan

Kalau untuk ke daerah Apo Kayan, ada jalan darat dari Kabupaten Mahulu. Tapi, saat ini memang tidak bisa dilalui.

Maret, DAK Pengiriman Obat ke Pedalaman Malinau Mulai Berjalan
(KOMPAS.com / FIKRIA HIDAYAT)
Ketinting membelah Sungai Kayan menuju Desa Data Dian, Kecamatan Kayan Hilir, Malinau, Kalimantan Utara. Data Dian adalah salah satu desa yang terletak di dekat perbatasan Indonesia - Malaysia. 

TRIBUNKALTIM.CO, MALINAU - Kekhawatiran puskesmas di daerah perbatasan dan pedalaman Malinau akan kekurangan obat-obatan sebentar lagi akan terjawab. Pasalnya, Maret ini Dana Alokasi Khusus (DAK) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI sebesar Rp 600 juta, khusus untuk pengiriman obat-obatan ke daerah tersebut akan digunakan.

Kepala Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) dr John Felix Rundupadang mengungkapkan, ada beberapa bulan dalam tahun 2018 ini telah ditetapkan oleh Dinkes P2KB sebagai jadwal pengiriman obat ke daerah-daerah itu.

"Kita telah menetapkan dalam 4 bulan berbeda untuk melakukan pengiriman obat, yakni Maret, Juni, September dan November. Nah, pada bulan-bulan itulah kami akan mengirimkan obat. Seluruh moda transportasi kita gunakan untuk melancarkan pengiriman. Mulai dari darat, sungai dan udara akan ditempuh," pungkasnya.

Permasalahan muncul ketika penerbangan ke daerah perbatasan dan pedalaman terbatas, dr John mengungkapkan, pihaknya saat ini sedang kesulitan melakukan pengiriman obat ke puskesmas di daerah-daerah itu. Sehingga, harus mencari alternatif lain untuk mengirim obat-obatan.

"Kalau daerah Kecamatan Pujungan dan Bahau Hulu, bisa kita kirim menggunakan jalur sungai. Tapi, kalau sudah mau dikirim ke Apo Kayan maka kebanyakan harus dikirim menggunakan pesawat. Inilah yang menjadi tantangan kita saat ini. Walaupun ada, pengiriman obat ke sana akan membutuhkan biaya sangat mahal," bebernya.

Susi Air merupakan satu-satunya maskapai yang digunakan oleh Dinkes P2KB saat ini. Menurut dr John, Susi Air menetapkan Rp 42.500/kilogram untuk sekali pengiriman barang ke daerah perbatasan dan pedalaman. Dinkes P2KB sekali mengirim obat seberat 20-30 kilogram. Artinya, Dinkes P2KB harus mengeluarkan dana sebesar Rp 850 ribu sampai dengan Rp 1,2 juta.

"Syukur kita dapat dana DAK itu. Sebab, alokasi dari DAK non fisik itu lebih besar dari dana yang telah kita anggarkan di APBD Malinau. Jadi, sangat membantu kita untuk menyelesaikan persoalan pengiriman obat-obatan. Apalagi, kalau pembekuan MAF dicabut maka kita tidak akan takut lagi akan terjadi kekurangan obat di sana," tuturnya.

Selain menggunakan pesawat terbang, seperti disampaikan John, pihaknya juga akan menggunakan jalur darat untuk proses pengiriman obat-obatan. Namun, pengiriman obat-obatan menggunakan jalur darat tersebut dapat terlaksana apabila kondisi jalan antar kecamatan di daerah perbatasan dan pedalaman tidak terputus.

"Kalau untuk ke daerah Apo Kayan, ada jalan darat dari Kabupaten Mahulu. Tapi, saat ini memang tidak bisa dilalui. Terlebih, jalan menuju Desa Mahak Baru Kecamatan Sungai Boh menuju Desa Long Ampung Kecamatan Kayan Selatan yang tengah terputus akibat longsor. Tentu saja, solusi jalur darat sulit untuk dilakukan," paparnya. (*)

Upayakan MAF bisa Antar Obat
MENGINGAT sulitnya transportasi ke daerah Apo Kayan saat ini, Dinkes P2KB Malinau berencana untuk membicarakan persoalan ini dengan institusi terkait. Salah satu penggunaan pesawat Mission Aviation Fellowship (MAF) untuk pengangkutan obat-obatan ke daerah perbatasan dan pedalaman.

"Kami masih menginginkan MAF untuk membantu mengirim obat. Selain efektif dan efisien, bantuan MAF mengirim obat juga tidak mengeluarkan biaya besar seperti saat kita menggunakan maskapai lain untuk kegiatan yang sama," ujar Kepala Dinkes dr John Felix Rundupadang.

Legal atau ilegal memberikan donasi kepada MAF sebagai ungkapan terimakasih telah dibantu, merupakan salah satu pokok bahasan saat berjumpa dengan institusi berwenang.

"Ketergantungan kita saat ini tetap menggunakan jalur udara. Sedangkan untuk jalur darat, kita lihat kondisinya tahun mendatang. Terpenting, dana untuk pengiriman obat tersedia. Apakah itu dari DAK atau dari APBD Malinau. Untuk biaya pengiriman obat sampai akhir tahun ini menggunakan pesawat, kita tetap sediakan. Dana pun siap," tegasnya. (*)

Penulis: Purnomo Susanto
Editor: Mathias Masan Ola
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved