Tambang Masih Dominasi Kredit Bermasalah di Kaltim

dibanding NPL 2016 lalu yang sebesar 7,3 persen. Diketahui, batas wajar kredit bermasalah ditetapkan maksimal diangka 5 persen

Tambang Masih Dominasi Kredit Bermasalah di Kaltim
TRIBUN KALTIM/NEVRIANTO HP
Kapal tongkang batu bara melewati Sungai Mahakam, Samarinda, Kalimantan Timur. 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Non Performing Loan (NPL) atau kredit bermasalah di Kaltim terus mengalami penurunan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, NPL Kaltim sepanjang 2017 mencapai 6,57 persen.

Menurun dibanding NPL 2016 lalu yang sebesar 7,3 persen. Diketahui, batas wajar kredit bermasalah ditetapkan maksimal diangka 5 persen. 

Baca: KNKT Tuntaskan Penyelidikan Terbaliknya Speedboad di Pelabuhan Tengkayu, Ini Hasil Analisanya

Kepala OJK Kaltim, Dwi Ariyanto menjelaskan NPL tertinggi berdasarkan jenis penggunaan berada pada kredit modal kerja sebesar 10,39 persen.

“Sementara, NPL pada sektor ekonomi tertinggi berada di sektor pertambangan dan penggalian sebesar 18,25 persen,” kata Dwi.

 Sektor konstruksi juga turut menyumbang NPL cukup tinggi yakni 10,04 persen. Sementara, NPL tertinggi di sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), berada di sektor menengah yakni 6,95 persen.

“Untuk sektor ekonomi listrik, gas dan air sebesar 13,16 persen,” kata Dwi.

Baca: Sejak SMP Sudah Terlihat Tengil, Foto Masa Kecil Aktor Tampan Tanah Air Ini Disangka Brad Pitt

Sekadar informasi, penyaluran kredit umum bank konvensional Kaltim sepanjang 2017 mencapai Rp67,38 triliun. Tumbuh 3,38 persen dibanding tahun sebelumnya. 

Adapun rincian penyaluran kredit sepanjang 2017, yakni 36,43 persen untuk kredit modal kerja. Sementara, kredit konsumsi mencapai 35,77 persen. Kredit investasi sendiri mengambil porsi sebesar 27,8 persen dari total kredit.

 Berdasarkan lapangan usaha, penyaluran kredit BUK berdasarkan lapangan usaha, sebesar 64,23 persen dari total penyaluran kredit

Baca: Orangutan Ditemukan Tewas dengan Luka Tembak, Kapolda Langsung Perintahkan Lakukan Penyelidikan

“Rinciannya, sektor perdagangan besar dan eceran sebesar Rp13,28 triliun atau sebesar 30,71 persen.. Industri pengolahan sebesar Rp6,41 triliun atau 14,82 persen. Selanjutnya ada pertanian, perburuan dan kehutanan sebesar Rp4,31 triliun atau 9,97 persen. Sedangkan untuk pertambangan dan penggalian, kredit yang dikucurkan sebesar Rp4,14 triliun atau 9,57 persen,” ujar Dwi.

Penulis: Rafan Dwinanto
Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help