Dari 130 Kasus TBC di Nunukan, 10 Anak Meninggal karena Terlambat Ditangani

Pokoknya kalau anak beratnya susah nambah, bawa ke kami. Karena kami temukan banyak kasus TBC, jangan sampai terlambat,

Dari 130 Kasus TBC di Nunukan, 10 Anak Meninggal karena Terlambat Ditangani
RSUD Nunukan, Kalimantan Timur 

TRIBUNKALTIM.CO, NUNUKAN - Dalam waktu sekitar sebulan ini, pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Nunukan menemukan 130 kasus Tuberculosis atau TBC pada anak-anak.

"Ini meningkat pastinya. Kalau berapanya? Kami kurang tahu pasti. Tetapi jauh meningkat karena ini saja 130 kasus," ujar dr Sholeh SpA, dokter spesialis anak di RSUD Nunukan.

Dia mengungkapkan, para penderita ini kebanyakan anak-anak yang tinggal di kawasan pedalaman. Aspek kurangnya intensitas pelacakan oleh tenaga medis serta terbatasnya akses kesehatan menjadi pemicu kenaikan kasus TBC.

"Jika saat ini ditemukan 130 kasus pada anak, kemungkinan besar terdapat jumlah yang sama dari penderita dewasa. Karena sifat TBC anak itu bukan muncul begitu saja tetapi lebih kepada penularan dari orangtua," ujarnya yang memperkirakan jumlah penderita TBC sebulan terakhir mencapai lebih 300 orang.

Pihaknya mengimbau agar orangtua anak juga melakukan pemeriksaan. Sebab, percuma anak sembuh jika orangtuanya masih mengidap TBC. "Anak-anak itu mayoritas ketularan," katanya.

Setahun belakangan ini pihak RSUD Nunukan mencatatkan 10 kasus kematian akibat TBC meningitis. Pasien meninggal akibat terlambat ditangani.

"Pokoknya kalau anak beratnya susah nambah, bawa ke kami. Karena kami temukan banyak kasus TBC, jangan sampai terlambat," ujarnya.

TBC bisa dipicu gaya hidup tidak sehat. Gejala yang muncul biasanya batuk disertai darah untuk dewasa. Sedangkan untuk anak, gejala yang tampak biasanya berat badan yang tak kunjung bertambah, nafsu makan kurang, demam, berkeringat saat malam juga nyeri di bagian dada.

Pengobatan juga pencegahan TBC tergolong serius. Dia menyebutkan, pengidap TBC akan diberikan antibiotik tertentu dengan waktu cukup lama. Sementara untuk mencegahnya, dokter akan memberikan vaksin Bacillus Calmette Guerin (GCB) agar penularannya terhenti. "Karena jika terlambat diatasi, nyawa pengidap bisa melayang kapan saja," ujarnya. (*)

Penulis: Niko Ruru
Editor: Mathias Masan Ola
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help