TribunKaltim/

Freeport Indonesia Ajukan Rekomendasi Ekspor Konsentrat Namun Wajib Bangun Smelter

Pasalnya, jika pengajuan rekomendasi ekspor yang diajukan sekarang ini selalu mepet dengan masa berakhirnya ekspor.

Freeport Indonesia Ajukan Rekomendasi Ekspor Konsentrat Namun Wajib Bangun Smelter
Pemandangan area tambang Grasberg Mine di Kabupaten Mimika, Papua, yang dikelola PT Freeport Indonesia. Lubang menganga sedalam 1 kilometer dan berdiameter sekitar 4 kilometer itu telah dieksploitasi Freeport sejak tahun 1988. Hingga kini, cadangan bijih tambang di Grasberg Mine tersisa sekitar 200 juta ton dan akan benar-benar habis pada 2017. (KOMPAS/PRASETYO ) 

TRIBUNKALTIM.CO, JAKARTA - PT Freeport Indonesia (PTFI) mengakui telah mengajukan rekomendasi ekspor konsentrat tembaga pada Kamis lalu (8/12). Saat ini pemerintah tengah mengevaluasi pengajuan tersebut dan akan dituntaskan pada Kamis ini (15/2).

Juru Bicara Freeport Indonesia, Riza Pratama membenarkan bahwa pihaknya telah mengajukan rekomendasi ekspor pada pekan lalu. Namun sayangnya ia masih enggan menjelaskan berapa kuota ekspor yang diajukan untuk satu tahun ke depan.

“Kami sudah mengajukan,” terangnya kepada Kontan.co.id, Selasa (13/2).

Asal tahu saja, kegiatan ekspor konsentrat Freeport Indonesia dijadwalkan berakhir pada tanggal 17 Februari 2018 ini. Adapun, sebelumnya Freeport Indonesia mendapatkan rekomendasi ekspor sebanyak 1,1 juta ton konsentrat tembaga.

Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Kementerian ESDM, Bambang Susigit pun membenarkan bahwa Freeport Indonesia sudah mengajukan rekomendasi ekspor. Hanya saja, ia juga enggan berbicara mengenai kuota yang diajukan untuk satu tahun ke depan.

“Mudah-mudahan Kamis nanti (evaluasinya) tuntas,” ungkapnya kepada KONTAN, Selasa (13/2).

Asal tahu saja, untuk mendapatkan rekomendasi ekspor, Freeport Indonesia harus menyelesaikan pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral (smelter) maksimal 90% dari rencana kerja per enam bulan. Hal itu sesuai dengan Peraturan Menteri No. 06/2017 Tentang Tata Cara Dan Persyaratan Pemberian Rekomendasi

Pelaksanaan Penjualan Mineral Keluar Negeri Hasil Pengolahan dan Pemurnian.

Sebelumnya, Bambang bilang, dalam waktu satu tahun pasca pemberian rekomendasi ekspor pada 17 Februari 2017 lalu, pembangunan smelter Freeport Indonesia baru mencapai 2,43% sesuai dengan hasil verifikator independen.

Ke depan, kata Bambang, pemerintah khususnya Kementerian ESDM akan menerbitkan aturan pengajuan rekomendasi ekspor dijadwalkan paling lambat 30 hari sebelum masa kegiatan ekspor berakhir. Pasalnya, jika pengajuan rekomendasi ekspor yang diajukan sekarang ini selalu mepet dengan masa berakhirnya ekspor.

Padahal, ada batas waktu untuk verifikasi administrative maupun verifikasi fisik yang waktunya harus diperhitungkan. (*)

Editor: Ahmad Bayasut
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help