TribunKaltim/

TB Key Trans 29 Selamatkan Lima Nelayan Filipina di Laut Sulawesi

Mereka hanyut dibawa ombak sampai di satu daerah di Malaysia. Selama dua hari di Malaysia, mereka kepikiran untuk balik lagi

TB Key Trans 29 Selamatkan Lima Nelayan Filipina di Laut Sulawesi
TRIBUN KALTIM / JUNISAH
Lima nelayan asal Filipina ini sedang menikmati pisang goreng di KSOP Tarakan, Kamis (15/2/2018). 

TRIBUNKALTIM.CO, TARAKAN - Lima nelayan Filipina yang terombang-ambing di Laut Sulewesi, hanya satu orang yang mampu berbahasa Indonesia. Pria yang bisa berbahasa Indonesia ini bernama Denton. Dari Denton ini akhirnya diketahui kronologis kejadian mereka terombang-ambing di Laut Sulewesi.

Denton menceritakan, awalnya pada 30 Januari dia bersama 4 rekan termasuk saudaranya berangkat dari Tawi-tawi menuju Bakungan salah satu daerah di Filipina untuk mencari ikan. Namun sampai di Bakungan tiba-tiba saja mesin kapal mati.

Akibatnya mereka hanyut dibawa ombak sampai di salah satu daerah di Malaysia. Selama dua hari di Malaysia, mereka kepikiran untuk balik lagi ke Tawi-tawi dan akhirnya mereka membuat perahu kecil seperti sampan dari triplek.

Setelah perahu kecil selesai, mereka langsung melanjutkan perjalanan menuju Tawi-tawi. Tapi karena ada ombak besar dan angin kencang mereka terombang-ombing sampai ke perairan Sulewesi. Selama empat hari terombang-ambing, Senin (12/2/2018) akhirnya diselamatkan TB Key Trans 29 yang berangkat dari Halmahera menuju Tanjung Selor.

Nahkoda TB Key Trans 29 akhirnya memberikan informasi kepada agen kapal di Tarakan, bahwa telah menyelamatkan 5 nelayan Filipina dan akhirnya agen kapal memberitahukan kepada KSOP Tarakan dan KSOP Tarakan langsung berkoordinasi dengan tim gabungan dan menjemput 5 nelayan Filipina ini di Pelabuhan Ancam Kabupaten Bulungan.

"Kami sangat bersyukur ditolong kapal besar. Selama tiga hari perjalanan di atas kapal besar kami diberikan makan dan minuman sama awak kapal. Kami sangat berterimakasih karena sudah dibantu dan bisa selamat," ujar Denton.

Denton mengaku, selama terombang-ambing di perairan laut selama 4 hari, ia bersama 4 nelayan lainnya hanya minum air galon dan makan bubur. "Waktu itu masih ada sedikit air di dalam galon, jadi kami bagi lima orang dan juga masih ada bubur," katanya. (*)

Penulis: Junisah
Editor: Mathias Masan Ola
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help