Tahun Baru Imlek

Kampung 'Tionghoa Lo Si Kay' Balikpapan, Jadi Tempat Pengungsian Perang Dunia II

KEHIDUPAN masyarakat Kota Balikpapan sangat ragam. Balikpapan ibaratnya makanan gado-gado, dalam satu piring

Kampung 'Tionghoa Lo Si Kay' Balikpapan, Jadi Tempat Pengungsian Perang Dunia II
Tribunkaltim/Fachmi Rachman
Warga Tiongoa tengah membakar kertas uang menjelang perayaan Imlek di Jalan Kilat, Baru Ilir 

TRIBUNKALTIM.CO - KEHIDUPAN masyarakat Kota Balikpapan sangat ragam. Balikpapan ibaratnya makanan gado-gado, dalam satu piring ada banyak macam. Pola masyarakat Balikpapan heterogen satu di antaranya etnis tionghoa yang sejak lama menghuni di kota minyak ini.

SAAT matahari bersinar terik, Tribun menjelajah ke perkampungan padat masyarakat Tionghoa, Kamis (15/2) siang. Lokasinya berada di Jalan Al Falah, Kelurahan Baru Ilir, Kecamatan Balikpapan Barat.

Menuju ke perkampungan ini mudah dijangkau, berada di pusat keramaian kota, dekat Pasar Kebun Sayur. Bila sudah temukan Puskesmas Baru Ilir maka sudah masuk ke perkampungan ini, lokasinya persis di belakang puskesmas.

Baca: Masyarakat Tionghoa Balikpapan Sambut Imlek, Ini Harapan Mereka di Tahun Anjing Tanah

Warga yang tinggal di perkampungan Tionghoa, Jalan Al Falah sudah tidak dominan lagi dihuni masyarakat Tionghoa. Warga sudah bercampur baur.

Menurut Tjan Hariyanto Chandra, pengamat Tionghoa Balikpapan, sebelumnya nama Jalan Al Falah dahulunya dinamakan Jalan Kilat. Namun waktu tahun 1970-an, daerah ini disebut Kampung Lo Si Kay.

"Sebutan Lo Si Kay itu jalan tikus. Perkampungannya punya jalan-jalan kecil seperti jalan tikus. Balikpapan sempat hancur perang dunia kedua. Warga Tionghoa yang tinggal di sekitaran Klandasan, gedung Bank Indonesia pindah. Mengungsi cari tempat aman. Pilihannya di Kebun Sayur dan sekitarnya di Jalan Al Falah.

Tempat perkampungan tersebut paling banyak diisi oleh suku Khong Hu yang dikenal masyarakat yang kebanyakan tekuni pekerjaan sebagai tukang kayu dan montir.

Baca: 75 Polisi Jaga Tempat Ibadah Perayaan Imlek di Tarakan

Sekarang, zaman terkini sudah banyak berubah, perkembangannya sudah maju. Banyak penduduk yang pindah tempat pergi dari daerah tersebut saat sesudah ada kejadian kebakaran besar di tahun 1987.

Setiap imlek, warga Tionghoa setempat masih lakukan tradisi. Pengamatan Tribunkaltim.co ada beberapa warga yang sembahyang lakukan ritual doa cara Tionghoa.

Saat imlek hari tahun baru China, warga setempat saling berkunjung satu sama lain. Bahkan warga di luar Tionghoa merasakan denyut nadi perayaan imlek. Toleransi antar suku dan agama berjalan baik. (*)

Penulis: Budi Susilo
Editor: Sumarsono
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help