Warga Perbatasan RI dengan Malaysia Sangat Rindukan Pasokan Listrik, Begini Kondisinya Sekarang

Aksi damai yang diikuti ratusan anggota LPADKT tersebut diterima pejabat Muspika Krayan bersama Koordinator PLN cabang setempat.

Warga Perbatasan RI dengan Malaysia Sangat Rindukan Pasokan Listrik, Begini Kondisinya Sekarang
HO
LPADKT Cabang Krayan berunjukrasa di Kantor Cabang PLN Krayan meminta listrik mengalir 24 jam 

Laporan Wartawan Tribun Kaltim, Rafan A Dwinanto

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Listrik masih menjadi infrastruktur dasar yang dirindukan masyarakat Kecamatan Krayan, Kabupaten Malinau.

Tokoh masyarakat Krayan sekaligus Kaltim, Vendi Meru meminta, pemerintah segera merealisasikan janjinya untuk membangun kawasan perbatasan Negara.

"Tidak sedikit Menteri yang datang ke Krayan. Kami minta, para Menteri ini merealisasikan apa yang mereka janjikan kepada masyarakat Krayan," kata Vendi, Kamis (22/2/2018), di Samarinda.

Ketua Laskar Pemuda Adat Dayak Kaltim (LPADKT) ini meminta, pemerintah tidak sekadar datang ke Krayan untuk menghibur hati masyarakat yang bermukim di beranda negara, ini.

"Krayan ini sangat strategis. Karena dekat sekali dengan Malaysia. Kami ingin, pemerintah membuat gebrakan nyata di Krayan," tegasnya.

Awal pekan lalu, kata Vendi, LPADKT menggelar unjuk rasa di Kantor Cabang PLN, Krayan.

Aksi damai yang diikuti ratusan anggota LPADKT tersebut diterima pejabat Muspika Krayan bersama Koordinator PLN cabang setempat.

“Jujur saja hal ini berawal dari adanya laporan dan keluhan dari saudara-saudara kami di Krayan. Hingga akhirnya sebagai bentuk tanggung jawab kami sebagai ormas daerah, kami memutuskan untuk menggelar aksi demo damai ini,” ungkap Vendi.

Di Krayan, kata Vendi, listrik hanya menyala 12 jam. Dari pukul 18.00 hingga 06.00.

"Selanjutnya 12 jam berikutnya listrik mati total. Nah sementara aktivitas sekolah maupun kesehatan dan perkantoran berjalan tanpa listrik. Bagaimana pembangunan dan perekonomian serta layanan kesehatan berjalan lancar? Bagaimana anak-anak kami mau pintar? Kalau belajar hanya mengandalkan sinar matahari. Bagimana anak-anak sekolah bisa mendalami komputer atau kemajuan fasilitas belajar lainnya kalau tak ada listrik di sekolah,” urai Vendi.

Vendi berharap aspirasi ini bisa didengar pemerintah pusat, khususnya melalui Pemprov Kaltara.

"Kita bersyukur, usai unjuk rasa itu, beberapa desa langsung diujicoba dinyalakan listrik 24 jam. Kita berharap ini tak sekadar ujicoba, dan kita harap juga semua desa di Krayan bisa menikmati listrik 24 jam," tegas Vendi.

Sementara, Camat Krayan Induk, Helmi Pudaaslikar mengatakan, perjuangan mewujudkan listrik 24 jam di Krayan, masih panjang.

”Perjuangan belum berakhir. Karena total ada 89 desa dan baru 13 desa yang teraliri listrik 24 jam. Artinya masih ada 66 desa lagi yang krisis listrik,” kata Helmi. (*)

Penulis: Rafan Dwinanto
Editor: Kholish Chered
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help