Wings Air Gagal Mendarat di Malinau Karena Cuaca Buruk, Terpaksa Kembali ke Sepinggan Balikpapan

Namun, karena langit Malinau tidak bersahabat sehingga pesawat kembali ke Bandara Aji Muhammad Sulaiman (AMS) Balikpapan

Wings Air Gagal Mendarat di Malinau Karena Cuaca Buruk, Terpaksa Kembali ke Sepinggan Balikpapan
Tribun Kaltim/Jino Prayudi Kartono
Para penumpang Wings Air nomor penerbangan IW 1478 masuk ke dalam pesawat menuju Malinau 

TRIBUNKALTIM.CO, MALINAU - Untuk kali pertama selama di Malinau dalam kurun waktu 9 hari melakukan penerbangan, maskapai penerbangan Wings Air mengalami delay (tunda keberangkatan) selama kurang lebih 5 jam, pada Jumat (2/3).

Seharusnya, sesuai jadwal pesawat ATR 72 ini berangkat pukul 09.35 dari Bandara Kol RA Bessing Malinau. Namun, pesawat baru tiba sekira pukul 14.00. Kemudian, sekira satu jam berikutnya pesawat lepas landas dari bandara.

Perwakilan Grup Lion Air di Malinau, Andrie Irvan Maulana mengungkapkan, tidak ada kesengajaan delay tersebut. Cuaca, menjadi faktor utama penyebab delay tersebut. Pesawat dengan tujuan Malinau-Balikapapan ini sebelumnya berangkat dari Balikpapan, pada pukul 07.45.

"Namun, karena langit Malinau tidak bersahabat sehingga pesawat kembali ke Bandara Aji Muhammad Sulaiman (AMS) Balikpapan. Itu informasi yang kita dapatkan dari pesawat," jelasnya kepada para penumpang yang ingin mengetahui mengapa pesawat belum juga mendarat.

Seauai informasi dijelaskan Irvan, penerbangan menuju Malinau saat itu baik-baik saja. Akan tetapi, ketika memasuki langit Malinau tiba-tiba banyak awan tebal menggumpal dan membuat jarak pandang pilot pesawat terbatas. "Jadi, sesuai informasi dari Airnav bahwa jarak pandang di langit Malinau saat itu hanya kurang lebih 100 meter. Itulah mengapa pilot tidak berani mendarat," paparnya.

"Padahal, pesawat itu sudah ada di atas bandara Kol RA Bessing. Cuman yaitu, karena jarak pandang terbatas terpaksa harus putar arah. Untuk penumpang, perlu juga kami sampaikan, yang dibawa ke Malinau dari Balikpapan juga sama-sama penuh, yakni sebanyak 72 penumpang," lanjutnya.

Mengapa tidak mendarat di Bandara Juwata Tarakan, Irvan menjelaskan pesawat bisa saja mendarat di Tarakan. Namun, untuk terbang kembali ke Malinau pesawat tidak memiliki izin rute penerbangan Tarakan Malinau. Apabila dilakukan, penerbangan dinyatakan ilegal.

"Kalau mau mendarat darurat boleh-boleh saja. Tapi, ketika kita akan terbang ke Malinau dari Tarakan tidak akan bisa. Sebab, kita tidak mengantongi izin terbang. Bisa dibilang ilegal penerbangan kita nanti kalau melakukan itu. Jadi, kita mendarat di Balikpapan," bebernya.

Sekretaris Daerah (Sekda) Malinau, Hendris Damus yang turut serta dalam penerbangan tujuan Balikpapan-Malinau menceritakan, pesawat yang ditumpanginya itu memang sudah sampai di Malinau. Bahkan, penumpang bisa melihat ramainya permukiman di Malinau dari atas udara. Namun, seketika itu pula awan menggumpal di langit Malinau.

"Kita itu sudah sampai Malinau sebenarnya. Gumpalan awan itu tebal sekali dan sangat padat. Tidak bisa pesawat tembus. Akhirnya, ada informasi dari crew pesawat bahwa penerbangan kita akan diarahkan kembali ke Balikpapan. Ya mau bagaimana lagi, kita ya ikut saja," tandasnya saat baru saja mendarat di Malinau.

Sempat pula, Sekda merasa sedikit panik. Namun karena telah biasa terbang ke daerah perbatasan dan pedalaman menjadikan tingkat keberanian Sekda lebih dari penumpang lain. Kurang lebih selama 3 jam, 72 penumpang pesawat Wings Air tujuan Balikpapan-Malinau berada di atas udara.

"Awalnya saja itu. Tapikan kita ini sudah biasa numpang pesawat kecil ke daerah perbatasan pedalaman. Kalau ke sana itu pesawat isi 4, 9 dan 12 orang sudah pernah saya rasakan semua. Jadi ya biasa-biasa saja. 3 jam kita diatas pesawat tadi pulang pergi. Ditambah, berangkat lagi 1,5 jam. Jadi, total penerbangan selama 4,5 jam," tuturnya. (*)

Penulis: Purnomo Susanto
Editor: Mathias Masan Ola
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved