Hindari Keterisolasian Desa Long Sule dan Long Pipa di Malinau Warga Patungan Perbaiki Jalan

Itu kalau kondisi rusak parah seperti sekarang ini. Kita butuh dua minggu untuk sampai di sana. Kalau pulang pergi sebulan

Hindari Keterisolasian Desa Long Sule dan Long Pipa di Malinau Warga Patungan Perbaiki Jalan
TRIBUN KALTIM/PURNOMO SUSANTO
Meskipun masih jalan tanah, namun jalan menuju Kecamatan Mentarang Hulu Malinau saat ini sudah tembus. 

TRIBUNKALTIM.CO, MALINAU - Perbaikan jalan rusak mestinya menjadi perhatian segenap pejabat dan pemegang kekuasaan di daerah ini. Warga dua desa masing-masing Long Sule dan Long Pipa terisolasi akibat terputusnya jalan karena longsor di berbagai titik.

Warga dua desa di Kecamatan Kayan Hilir ini sudah lebih sebulan belakangan bergotong royong memperbaiki jalan di dalam hutan belantara yang biasa dilalui oleh para pedagang sembako.

Jalan tembus ini dibuka perusahaan kayu yang beroperasi di Provinsi Kaltim yang sekarang sudah terpisah, yakni di sepanjang jalur antara Kabupaten Malinau Provinsi Kaltara dan Kabupaten Kutai Timur Provinsi Kaltim. Jalur ini biasanya digunakan warga untuk mendistribusikan kebutuhan pokok ke dua desa pedalaman di Malinau itu.

Jalur ini juga merupakan jalan satu-satunya bagi masyarakat dua desa pedalaman ini untuk membeli kebutuhan pokok. Tanpa jalan itu, dua desa tersebut bergantung pada pengiriman kebutuhan pokok melalui transportasi udara. Namun, transportasi itu tidak dapat setiap waktu melayani permintaan masyarakat. Sehingga, sering terjadi kelangkaan sembako di dua desa ini.

Agus Purwanto staf desa Long Sule mengungkapkan, sekitar 3 kilometer jalan akan diperbaiki oleh warga secara gotong royong bermodalkan alat seadanya.

"Ya kita kerjakan secara manual saja dengan alat sederhana. Seperti, cangkul, skop dan peralatan lainnya milik warga. Sebab, tidak ada alat berat masuk ke sini (Long Sule) untuk memudahkan pekerjaan kita," ujarnya saat dihubungi melalui pesan singkat.

Agus memperkirakan, warga sudah bergerak sejak Januari hingga sekarang. Persoalan banyaknya kerusakan jalan karena tanah longsor, menjadi faktor utama lamanya perbaikan jalan secara manual oleh warga dua desa ini. Ditambah, medan jalan yang sangat berat semakin pelik proses perbaikan jalan.

"Untuk membiayai perbaikan jalan ini, pemerintahan dua desa bersatu untuk patungan. Bukan hanya pemerintahan desa, warga dan para pedagang pun patungan untuk perbaikan jalan. Masing-masing desa memberikan bantuan sebesar Rp 18.450. Kalau untuk warga dan pedagang maupun sopir angkutan bervariasi jumlah sumbangannya," tandasnya.

Keterisolasian daerah menjadi momok sangat menakutkan bagi dua desa yang memang masih menyandang daerah 3T ini. Terlebih, penerbangan ke dua desa ini sangatlah terbatas menyusul pembekuan maskapai MAF tahun 2017 lalu.

"Kami tidak mau menunggu dari pemerintah. Kalau menunggu itu, bisa kelaparan warga kita. Jadi, apa yang bisa kita lakukan, ya kita lakukan dulu. Sejak dulu, desa kami kerap kekurangan sembako. Apalagi, kalau cuaca tidak bagus dan jalan hancur maka tidak ada jalan lain selain menunggu kiriman dari pemerintah," tuturnya. (*)

Kutai Timur Ikut Membantu
TIDAK bekerja sendiri, Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur yang juga terhubung dengan ruas jalan ini membantu masyarakat dua desa di Kayan Hilir memperbaiki jalan. Pihak Kecamatan Muara Wahau berhasil melobi perusahaan di wilayahnya untuk membantu masyarakat Desa Long Sule dan Long Pipa untuk memperbaiki jalan.

"Jadi jalan yang kita bangun itu hanya sampai di Desa Metun. Sekitar 20 kilometer jalan yang menghubungkan Metun dengan Muara Wahau. Nah, jalan itulah yang akan dibantu perbaikannya oleh perusahaan. Namun, untuk gotong royong warga di sana kita juga turut membantu. Jadi, untuk kebutuhan gotong royong kita telah mengumpulkan dana sebesar Rp 71 juta," ujar staf Kantor Desa Long Sule, Kecamatan Kayan Hilir, Agus Purwanto.

Agus menjelaskan panjang jalan yang menghubungkan dua kabupaten ini sekitar 180 kilometer. Biasanya masyarakat menempuh perjalanan kurang lebih dua minggu. Kalau bukan karena kebutuhan perut tidak akan ada orang yang mau menempuh jalan tersebut.

"Itu kalau kondisi rusak parah seperti sekarang ini. Kita butuh dua minggu untuk sampai di sana. Jadi, kalau pulang pergi bisa memakan waktu sampai satu bulan perjalanan. Ya, karena kebutuhan pokok kita ya dengan susah payah kita harus memperbaikinya. Entah sampai kapan kita tertinggal dan terisolasi seperti ini. Negara harus hadir untuk menyelesaikan persoalan ini," tegasnya. (*)

Tags
Wahau
Metun
Penulis: Purnomo Susanto
Editor: Mathias Masan Ola
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help