Bisnis Ekspor Rempah Indonesia Meningkat

Eksportir rempah sekaligus pengurus Dewan Rempah Indonesia Sigit Ismaryanto mengatakan rempah dibutuhkan untuk berbagai kebutuhan.

Bisnis Ekspor Rempah Indonesia Meningkat
KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO
Berbagai jenis rempah dijual di kios rempah di Pasar Bukittinggi, Sumatera Barat. 

TRIBUNKALTIM.CO, JAKARTA - Tahun 2018 ini ekspor rempah-rempah Indonesia diperkirakan masih akan meningkat dibandingkan tahun lalu. Hal ini dikarenakan potensi rempah Indonesia yang masih besar di pasar internasional.

Eksportir rempah sekaligus pengurus Dewan Rempah Indonesia Sigit Ismaryanto mengatakan rempah dibutuhkan untuk berbagai kebutuhan.

"Tak hanya untuk makanan, rempah digunakan untuk bahan obat, kosmetik, perfume, dan lain sebagainya. Karena itu potensinya sangat besar," ujar Sigit kepada Kontan.co.id, Minggu (4/3/2018).

Sigit pun optimistis ekspor rempah Indonesia akan meningkat. Hal ini ditunjukkan oleh nilai ekspor tahun lalu yang meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

Pasalnya, nilai ekspor rempah hingga Oktober 2017 mencapai US$ 15,09 miliar atau meningkat 18,39% dibandingkan Oktober 2016. Sayangnya, Sigit belum bisa memperkirakan berapa besar peningkatan ekspor rempah tahun ini.

Sigit menambahkan, di sisi perdagangan rempah Indonesia masih menjadi salah satu komoditas yang telah mencatatkan surplus neraca perdagangan luar negeri sebesar US$ 1,39 miliar hingga Agustus 2017. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan capaian hingga Agustus 2016 sebesar US$ 1,041 miliar.

Lebih lanjut Sigit menjelaskan, terdapat lebih dari 2.000 jenis rempah yang ada di Indonesia, namun baru 360 jenis yang baru ditemukan. saat ini terdapat beberapa komoditas ekspor yang potensial yakni kayu manis, cengkeh, kapulaga, pala, kopi, lada, kunyit dan jahe.

"Saat ini yang paling diminati pasar global adalah kayu manis. Permintaannya sangat tinggi," ujar Sigit.

Komoditas rempah Indonesia memiliki daya saing yang cukup baik di pasar global. Apalagi, Indonesia menduduki peringkat ke-4 eksportir rempah di dunia dengan pangsa pasar 8,8% di tahun 2015 di bawah India, Vietnam, Tiongkok.

Karena itu, Sigit berpendapat, upaya untuk menjaga rempah ini harus maksimal. Menurutnya harus ada pembinaan dan pengawasan mulai dari hulu hingga hilir.

Pemerintah pun saat ini telah memberikan perhatiannya pada peningkatan produksi rempah melalui penyediaan pupuk dan benih. Pemerintah pun menganggarkan dana Rp 27 triliun untuk peningkatan produksi ini.

Sigit berpendapat hal tersebut merupakan salah satu upaya untuk mengembangkan kejayaan rempah Indonesia, hanya saja menurutnya harus ada road map yang jelas yang disusun oleh pemerintah dalam menjalankan hal ini. (*)

Editor: Ahmad Bayasut
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help