SOA Penumpang Belum Berjalan, Guru dan Tenaga Kesehatan Tertahan di Malinau

Kami mengharapkan, agar SOA penumpang dapat segera dijalankan. Dampak saat ini sudah terasa. Malahan sudah lama dirasakan

SOA Penumpang Belum Berjalan, Guru dan Tenaga Kesehatan Tertahan di Malinau
istimewa
Pesawat ATR-72 Wings Air mendarat di bandara RA Bessing Malinau, Kamis (22/2/2018). 

TRIBUNKALTIM.CO, MALINAU- Belum terlaksananya subsidi ongkos angkut (SOA) penumpang di Malinau memberikan dampak yang signifikan. Bahkan, harus segera diselesaikan. Apabila dibiarkan terlalu lama, akan berakibat pada terhambatnya sistem pendidikan dan pelayanan kesehatan di daerah perbatasan dan pedalaman.

Dampak tersebut saat ini tengah dirasakan di dua desa di Kayan Hilir, yakni Desa Long Sule dan Long Pipa. Kekurangan guru dan tenaga kesehatan menghantui dua desa itu. Ini karena belum berjalannya SOA penumpang. Masyarakat mengharapkan, subsidi tersebut dapat segera berjalan.

Kaur Keuangan Desa Long Sule, Agus Purwanto mengungkapkan, sekitar 20 orang calon penumpang pesawat program subsidi pemerintah dengan tujuan Desa Long Sule tertahan di Malinau. Kebanyakan dari mereka yang tertahan merupakan tenaga pendidikan dan tenaga kesehatan di Puskesmas Long Sule. "Kebanyakan mereka itu guru dan tenaga kesehatan," ungkapnya.

Masyarakat Long Sule dan Pipa mengharapkan, agar subsidi penumpang dan barang dilaksanakan sesegera mungkin. Sebab, pelayanan pendidikan dan kesehatan di dua desa cukup terganggu dengan adanya persoalan tersebut. Untuk mengatasinya, tenaga pendidikan dan kesehatan harus bekerja lebih banyak.

"Pelayanan kesehatan dan pendidikan terus diupayakan maksimal. Sebagian guru dan tenaga kesehatan di desa kan masih ada. Jadi, mereka lah yang diharapkan bekerja ekstra agar pelayanan pendidikan dan kesehatan tidak terlalu terganggu," ungkap Agus.

Bukan hanya persoalan itu. Tidak kalah pentingnya, Agus menyatakan, persoalan keterbatasan sembako dan kebutuhan pokok lainnya di dua desa ini masih terjadi. SOA yang diidam-idamkan warga perbatasan dan pedalaman belum juga dirasakan.

"Kami mengharapkan, agar SOA penumpang dapat segera dijalankan. Dampak saat ini sudah terasa. Malahan sudah lama dirasakan. Barang kebutuhan pokok kita sangat terbatas. Kemudian, pelayanan kesehatan dan pendidikan juga terganggu. Kami mengharapkan, dengan berjalannya dua subsidi itu dapat membantu mengatasi kesulitan kami," tandasnya.

Seperti diwartakan sebelumnya, untuk mengatasi keterisolasian wilayah di dua desa tersebut masyarakat harus patungan untuk memperbaiki dan membuka jalan eks kayu. Lebih satu bulan belakangan ini masyarakat bergotong royong membuka jalan. Dana yang terkumpul di dua desa itu sebesar Rp 81 juta.

"Jalan tembus dari desa kami itu menuju Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur. Jalan itu, kita gunakan untuk jalur pembelian sembako. Kami bersyukur, bukan hanya kami saja yang bergotong royong. Masyarakat di Wahau juga membantu kami membuka jalan. Kami juga dibantu oleh perusahaan," paparnya. (*)

Warga Serbu BBM di Bandara
SALAH satu barang kebutuhan pokok yang sangat diperlukan saat ini di Long Sule dan Long Pipa, adalah Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis bensin. Biasanya, masyarakat dua desa itu menggunakan bensin untuk menyalakan generator. Namun, ketiadaan bensin membuat setiap malam masyarakat harus tidur tanpa penerangan. "Semua generator tidak aktif. Bensinnya saja tidak ada. Begitu pula kendaraan roda dua tidak bisa jalan karena tidak ada bensin," tutur Kaur Keuangan Desa Long Sule, Agus Purwanto.

Suplai BBM terkadang dilakukan dari Sungai Boh. Namun, suplai BBM dari salah satu daerah Apo Kayan itu tetap tidak cukup untuk masyarakat dua desa. Bahkan, saat BBM baru sampai di Bandara Desa Long Sule masyarakat langsung menyerbu untuk membeli. BBM pun langsung habis terjual.

"Kalau sudah datang ke desa kami, masyarakat langsung serbu ke bandara. Jadi, tidak sempat turun ke desa BBM sudah habis. Paling cuman satu jam saja bertahan bensi sudah habis terjual. Tidak akan cukup kalau suplai BBM dari Sungai Boh. Apalagi sekarang ini sudah lama BBM tidak ada. Harganya cukup mahal," pungkasnya.

Salah satu warga Long Sule, Yan Tusau (52) mengungkapkan, bensin di Long Sule saat ini tembus harga Rp 50 ribu. Sedangkan untuk beras dan gula di Long Sule seharga Rp 35 ribu/kilo. "Itupun kalau ada barangnya. Kalau tidak ada ya mau apa. Ada uang tapi tidak ada barang. Kalau ada barang, masyarakat akan berusaha membelinya," ujarnya. (*)

Penulis: Purnomo Susanto
Editor: Mathias Masan Ola
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help