Di Sidang Dana Hibah, Ketua LPK Prima Jaya Utama Akui Lakukan Mark Up

Anggota majelis hakim Fery Haryanta mencecar saksi Dody terkait dana yang dipergunakan oleh LPK Prima Jaya Utama.

Di Sidang Dana Hibah, Ketua LPK Prima Jaya Utama Akui Lakukan Mark Up
TRIBUNKALTIM/BUDHI HARTONO
SIDANG - Ketua LPK Prima Jaya Utama, Dody Novianda (tengah) dan Abdillah Yanuar (Bendahara LPK Prima Jaya Utama dan Instruktur di LPK Jmicron) bersama Abdullah (kanan) staf Ketua DPRD Kaltim sebagai saksi, dikonfrontir dalam sidang korupsi dana hibah di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Samarinda, Rabu (14/3). 

SAMARINDA, TRIBUN - Saksi Dody Novianda yang menjabat Ketua LPK Prima Jaya Utama, sekaligus terdakwa dugaan korupsi dana hibah dari APBD Kaltim 2013 lalu, mengakui, melakukan mark up honor dan belanja spare part otomotif (motor dan mobil).

Ini diungkapkan saat menjadi saksi terdakwa Ednan (Ketua LPK Jmicron), di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Samarinda. Keterangan saksi disampaikan Ketua majelis hakim yang dipimpin Joni Kondolele didampingi Fery Haryanta dan Anggraeni. Sementara Jaksa Penuntut Umum dihadiri Doni Dwi Widjayanto.

Anggota majelis hakim Fery Haryanta mencecar saksi Dody terkait dana yang dipergunakan oleh LPK Prima Jaya Utama.

Baca: Gara-gara Ini, Terdakwa Dana Hibah Sumpahi Staf Ketua DPRD Kaltim

Baca: Debat Kandidat Pilgub Kaltim bisa jadi Digelar di Jakarta, Ini Sebabnya

"Apa saja yang Anda gunakan? Apakah ada yang digunakan untuk kepentingan saudara?" tanya Fery kepada saksi Dody, terkait pengakuan pemberian fee 30 persen dari dana hibah, di Pengadilan Tipikor Samarinda, Jalan M Yamin, Rabu (14/3).

Pengakuan Dody, ia menggunakan dana hibah sebesar Rp 1,9 miliar itu, pernah memberikan pelatihan. " (Antara lain) Kegiatan pelatihan mekanik otomotif," jawabnya.

Disinggung, selain Rp 570 juta untuk kepentingan orang lain, Dody juga melakukan kegiatan pelatihan di Rutan Sempaja. "Cuma kesalahannya di nota. Untuk menutupi yang Rp 570 juta," lanjut Dody mengakui.

Fery mempertanyakan kembali, bagaimana cara menutupi dana yang disetorkan untuk fee Rp 570 juta. Dody mengakui mark up beberapa pengeluaran. "Untuk diakomodir, saya mark up (honor) misanya dari 5 juta menjadi 10 juta," jawab Dody.

"Oh jadi menggelembungkan," sahut Fery. "Contoh lain nota apa lagi," tanya Fery lagi.
Dody akhirnya mengakui, untuk menutupi laporan keuangan Rp 570 juta (untuk fee 30 persen), selain mark up honor juga untuk belanja barang. "Seperti belanja spare part, di mark up juga," tambahnya.

Halaman
12
Penulis: Budhi Hartono
Editor: Adhinata Kusuma
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved