Film

Guru Ngaji, di Tengah Himpitan Ekonomi antara Jadi Badut atau Pembaca Doa

Mengingatkan pada pentingnya dedikasi pada sebuah kerja, bahkan dalam himpitan ekonomi dan cibiran sekalipun.

Guru Ngaji, di Tengah Himpitan Ekonomi antara Jadi Badut atau Pembaca Doa
ISTIMEWA
Film Guru Ngaji 

TRIBUNKALTIM.CO, JAKARTA - Mengingatkan pada pentingnya dedikasi pada sebuah kerja, bahkan dalam himpitan ekonomi dan cibiran sekalipun.

Berbumbu kisah cinta dan isu keberagaman, menjadikan film Guru Ngaji ini sebagai tontonan yang diperlukan.

Adalah Mukri (Donie Damara) seorang guru ngaji di desa Tempuran yang sangat telaten mengajar dan tidak memberlakukan tarif untuk jasanya itu.

Terserah mau dibayar tunai atau jasanya ditukar dengan sembako.

Baca: Di Peragaan Busana Anne Avantie Kain Menteri Susi Tersingkap, Eh Tato Phoenix-nya Ikut Terlihat Loh!

Padahal untuk menutupi kebutuhan keseharian, jelas dia butuh pemasukan untuk menghidupi seorang anak dan istrinya, yang digambarkan rajin berutang baju dari pedagang keliling.

Tidak heran jika dia juga harus berurusan dengan utang dari Kirun, yang masih terhitung sebagai Paman.

Untuk menutupi berbagai kekurangan itu, Mukri diam-diam juga bekerja sebagai badut pada sebuah pasar malam milik Koh Alung.

“Saya tidak mau keluarga atau warga malu punya guru ngaji yang jadi bahan tertawaan," katanya beralasan.

Namun masalah mulai muncul ketika Mukri harus memimpin doa sekaligus jadi badut pada sebuah acara pesta ulang tahun anak kepala desa.

Halaman
1234
Editor: Trinilo Umardini
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help