TribunKaltim/

Pilgub Kaltim 2018

Program Dasacita Rusmadi-Safaruddin Ditanggapi Pakar, Begini Ulasannya

Dalam konsep psikologi sosial, misalnya, kata Andreas, penanganan masalah banjir di Balikpapan dan Samarinda berbeda.

Program Dasacita Rusmadi-Safaruddin Ditanggapi Pakar, Begini Ulasannya
TRIBUNKALTIM.CO/MUHAMMAD FACHRI RAMADHANI
Pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Kaltim nomor urut 4, Rusmadi-Safaruddin, saat meresmikan posko relawan di Kecamatan Anggana, Kutai Kartanegara, Sabtu (7/4/2018). 

Laporan wartawan TribunKaltim.co, Muhammad Fachri Ramadhani

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Gagasan Dasacita yang dilontarkan pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur Kaltim, Rusmadi-Safaruddin, mengundang komentar para pakar.

Sejumlah persoalan berat menanti, ketika pemilihan gubernur Kaltim usai.

Essay tentang kota kumuh yang tak pernah berhenti dibahas banyak orang, satu di antaranya adalah penanganan banjir di dua kota besar Kalimantan Timur, Samarinda dan Balikpapan.

Program ini salah satu yang dicanangkan Rusmadi-Safaruddin dengan tagline "Kaltim Tanpa banjir".

“Saya kira karakteristik dua kota ini berbeda. Balikpapan yang memiliki elevasi lebih rendah jika dibandingkan dengan Samarinda, sudah barang tentu berbeda pola cara penangannya,” kata Andreas Agung S.Psi. MA, salah seorang pakar dan peneliti psikologi sosial di Samarinda.

Pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Kaltim nomor urut 4, Rusmadi-Safaruddin, saat meresmikan posko relawan di Kecamatan Anggana, Kutai Kartanegara, Sabtu (7/4/2018).
Pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Kaltim nomor urut 4, Rusmadi-Safaruddin, saat meresmikan posko relawan di Kecamatan Anggana, Kutai Kartanegara, Sabtu (7/4/2018). (TRIBUNKALTIM.CO/MUHAMMAD FACHRI RAMADHANI)

Dalam konsep psikologi sosial, misalnya, kata Andreas, penanganan masalah banjir di Balikpapan dan Samarinda berbeda.

Samarinda yang memulai peradaban dari tepi sungai atau yang dikenal dengan Kota Tepi Air Sungai (KTAS) memiliki karakter homogen dan etnosentris.

“Penanganannya harus menyertakan filosofi sungai, filosofi peradaban air. Penanganan masyarakatnya harus menyertakan analisis budaya sungai, budaya perairan,” tegas Andreas.

Pekerja minyak Belanda di Balikpapan saat itu tidak kekurangan air. Pasokan air bersih seluruhnya diperoleh dari Sungai Wain.

Halaman
123
Penulis: Muhammad Fachri Ramadhani
Editor: Syaiful Syafar
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help