Analis Ungkap Kekhawatiran Produsen Obat Atas Temuan Terapi Gen, Penyembuh Ragam Penyakit

Sebuah laporan baru yang ditulis oleh para analis di Goldman Sachs, di Amerika Serikat, menuai kritikan.

Analis Ungkap Kekhawatiran Produsen Obat Atas Temuan Terapi Gen, Penyembuh Ragam Penyakit
Ilustrasi CRISPR(Natali_Mis) 

TRIBUNKALTIM.CO - Sebuah laporan baru yang ditulis oleh para analis di Goldman Sachs, sebuah perusahaan investasi dan perbankan di Amerika Serikat, menuai kritikan.

Pasalnya, laporan berjudul “The Genome Revolution” tersebut bertanya kepada para perusahaan bioteknologi, “Apakah menyembuhkan pasien bisa menjadi model bisnis yang berkelangsungan?”

Pada saat ini, salah satu aspek yang paling menarik dan menjanjikan dari terapi gen untuk terus dipelajari adalah penyembuhan bagi berbagai macam penyakit.

Teknologi ini, ujar analis Salveen Richter dan koleganya, akan sangat membantu pasien, tetapi bisa menimbulkan masalah bagi bisnis karena pasien yang seharusnya terus-terusan bergantung pada pengobatan menjadi sembuh dan berhenti membeli produk-produk mereka.

“Meskipun rencana ini memiliki nilai yang luar biasa bagi pasien dan masyarakat, ini juga bisa menjadi tantangan bagi pengembang pengobatan genom yang membutuhkan aliran uang berkelangsungan,” tulis Richter.

Sebagai contoh, tim Golman Sachs menunjuk pada Gilead Sciences, sebuah perusahaan yang menjual pengobatan untuk hepatitis C dengan tingkat kesembuhan hingga 90 persen. Pada puncaknya, yakni 2015, penjualan Gielad untuk obat tersebut di AS mencapai 12,5 miliar dollar AS (sekitar Rp 172 triliun).

Namun, dengan semakin banyaknya orang yang sembuh, penjualan obat hepatitis C milik Gilead menurun dan diprediksi “tinggal” 4 miliar dollar AS (Rp 55 triliun) pada tahun ini.

Richter menulis, Gilead adalah kasus di mana kesuksesan pengobatan hepatitis C-nya secara perlahan-lahan menghabiskan pasar yang bisa diobati.

“Dalam kasus penyakit menular seperti hepatitis C, menyembuhkan pasien yang ada juga mengurangi jumlah pembawa virus yang bisa menulari pasien baru, sehingga pasarnya menyusut. Di mana pasarnya stabil (misalnya kanker) potensi untuk penyembuhan memiliki risiko yang lebih kecil terhadap kelangsungan sebuah waralaba,” katanya.

Untuk menyelesaikan dilema ini, laporan Richter dan kolega pun memberikan tiga usulan kepada para perusahaan bioteknologi.

Pertama adalah berfokus pada penyakit dengan pasar yang lebih besar dan stabil, seperti hemophilia atau kondisi langka di mana darah tidak menggumpal secara normal, atau atrofi otot tulang belakang (spinal muscular atrophy) yang memengaruhi sel-sel pada syaraf dan mengganggu kemampuan pasien untuk berjalan, makan, dan bernapas.

Solusi kedua adalah terus berinovasi untuk mengembangkan portfolio pengobatan untuk mengimbangi penurunan pendapatan dari aset sebelumnya.

Terakhir, jika penyembuhan melalui terapi gen benar-benar menjadi kenyataan, Goldman Sachs menyarankan kepada para perusahaan bioteknologi untuk membuka peluang investasi bagi penyakit-penyakit akibat penuaan.

[Shierine Wangsa Wibawa]

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kala Menyembuhkan Pasien Dianggap Buruk untuk Bisnis",

Editor: Achmad Bintoro
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help