Di Madrasah Ini, Murid-muridnya Dulu Suka Ngelem

LOKASI madrasah ini berada di tengah permukiman penduduk, tepatnya di pinggir Sungai Karang Asam besar, salah satu anak Sungai Mahakam.

Di Madrasah Ini, Murid-muridnya Dulu Suka Ngelem
TRIBUNKALTIM/DOAN PARDEDE
RUANG KELAS - Dua buah rumah warga di pinggir Sungai Karang Asam besar dijadikan ruang kelas Madrasah Diniyah Takmiliyah Ar-Rasyidah, pekan lalu. 

Berdirinya Madrasah Diniyah Takmiliyah Ar-Rasyidah, Jalan Slamet Riyadi Gang Budiman RT 11, Kelurahan Karang Asam Ilir tepatnya Juli tahun 2016 lalu, ternyata memberikan sangat banyak manfaat bagi masyarakat sekitar. Wilayah yang dulunya menjadi salah satu titik 'zona merah' di Kelurahan Karang Asam bahkan di Kota Samarinda ini, perlahan-lahan mulai berubah religius.

LOKASI madrasah ini berada di tengah permukiman penduduk, tepatnya di pinggir Sungai Karang Asam besar, salah satu anak Sungai Mahakam. Untuk menjangkau lokasi bisa melalui Jalan Slamet Riyadi atau Jalan Ulin. Namun, belum seluruh jalan bisa dilalui sepeda motor.

Sebagian jalan, khususnya yang berada di dekat madrasah masih berupa susunan papan dengan panjang sekitar 1 meter dan lebih aman untuk dilalui dengan berjalan kaki.

Saat ini, madrasah ini memiliki 20an guru dan 6 kelas, yakni kelas 1 A, 1 B, 1 C, 1 D, 1 E, 2 A, dan belum ada kelas 3.  Bangunan kelas seluruhnya masih terbuat dari papan, dan awalnya merupakan rumah-rumah penduduk yang kemudian dimodifikasi sedemikian rupa.

Karena tak ada meja dan kursi, peserta didik belajar lesehan. Seluruh peserta didik yang belajar di madrasah ini tidak dipungut biaya alias gratis. Informasinya yang dihimpun Tribun, Minggu (15/4), madrasah ini sudah mengantongi izin dari Kementerian Agama tahun 2017 lalu.

Berdasarkan penuturan Pimpinan Madrasah Diniyah Takmiliyah Ar-Rasyidah, Sarpani, jumlah peserta di awal-awal masdrasah berdiri bisa dihitung dengan jari "Itupun hanya anak-anak yang tinggal di rumah saya," ujarnya, pekan lalu.

Mengajak anak-anak setempat agar mau belajar di madrasah menurutnya bukan tugas yang mudah. Apalagi, anak-anak usia sekolah yang ada di wilayah tersebut memiliki kebiasaan ngelem.

Dirinya, bersama pihak kelurahan, Babinsa dan Babinkamtibmas yang ada harus berkeliling ke rumah-rumah warga, mengajak agar orangtua mau menyekolahkan anaknya. Perkembangan madrasah ini juga tak lepas dari peran para guru yang mau setia mengajar walau tanpa imbalan yang jelas.

Bahkan di masa-masa awal dulu, guru-guru yang ada terkadang hanya diberi makanan dan gaji seadanya. "Khusus yang sekarang kelas 2, itu rata-rata anak-anak yang dulu ngelem," ujarnya.

Walau semua fasilitas masih sangat minim, ilmu yang diberikan di madrasah ini cukup lengkap, bahkan lebih banyak dari beberapa madrasah lain.

Halaman
12
Penulis: Doan E Pardede
Editor: Adhinata Kusuma
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help