Perjuangan Korban Abu Tours, Lengkapi Data dan Bawa Bukti ke Dewan dan Polisi

Sumiyati dan Saipul mewakili lebih dari 70 jamaah menyerahkan sejumlah bukti daftar jamaah PT AT ke DPRD Samarinda.

Perjuangan Korban Abu Tours, Lengkapi Data dan Bawa Bukti ke Dewan dan Polisi
TRIBUN KALTIM/NEVRIANTO HARDI PRASETYO
DIKONTRAKKAN-Kantor Abu Tours yang tutup tanpa aktifitas kini terpajang poster dikontrakkan di jalan Ahmad Yani Kota Samarinda, Senin (16/8). 

"Korban ada sekitar 36 orang dari 11 LP tersebut. Kita masih buka posko pengaduan di SPKT Polda Kaltim," ujarnya. Berdasarkan perintah Bareskrim Mabes Polri, seluruh jajaran Polda diminta untuk mengumpulkan pengaduan hingga laporan polisi dari korban di masing-masing daerah.

"Nanti pengaduan dan laporan yang ada, tetap kita periksa korban. Namun penanganan kita limpahkan ke Polda Sulsel. Mereka yang tangani, sesuai perintah Bareskrim," ungkapnya.
"Karena di sana (Polda Sulsel) sudah diproses money laundring juga. Asetnya juga sudah banyak disita," sambungnya.

Berbagai laporan jamaah korban AT yang masuk Kantor Sentra Pelayan Kepolisian Terpadu (SPKT), membuat miris. Laporan Ramli (56) misalnya. Bersama lima keluarganya, nelayan asal Penajam Paser Utara ini mengadu pada Selasa (10/4) lalu. Keluarga Ramli rata-rata adalah petani.

Jauh-jauh ia datang dari Penajam, mereka melapor ke SPKT Balikpapan. Turun dari angkot, dengan wajah masih berpeluh, kepada Tribunkaltim.co Ramli menumpahkan kekecewaannya lantaran merasa ditipu oleh biro jasa perjalanan umroh tersebut.

Mei 2017 silam, ia telah menyetor uang Rp 16 juta ke salah satu agen travel tersebut. Ia dijanjikan bakal berangkat menuju tanah suci pada Januari 2018 lalu, namun hingga kini nasibnya tak kunjung jelas.

Mirisnya, ia pun juga sudah menyetor Rp 1 juta untuk pengurusan administrasi dan perlengkapan umroh. Boro-boro terbang ke tanah suci, ia hanya bisa menyimpan kedongkolan setiap kali melihat cover bag bertuliskan Abu Tour di rumahnya.

"Rp 16 juta saya setor. Paket umrohnya 9 hari. Dijanjikan Januari ini berangkat," tutur nelayan yang melaut dari Pantai Lango, Penajam, Kabupaten PPU.

Ramli (56) bersama keluarga melapor ke Polda Kaltim lantaran jadi salah satu korban gagal umrah PT Amanah Bersama Umat alias Abu Tours, Selasa (10/4/2018).
Ramli (56) bersama keluarga melapor ke Polda Kaltim lantaran jadi salah satu korban gagal umrah PT Amanah Bersama Umat alias Abu Tours, Selasa (10/4/2018). (TRIBUN KALTIM/MUHAMMAD FACHRI RAMADHANI)

Saat ditawari paket umroh dengan harga miring, awalnya tak ada kecurigaan sama sekali. Lantaran sudah banyak warga kampungnya yang telah berangkat. Namun, apesnya saat tiba giliran Ramli beserta keluarga, travel tersebut tersangkut kasus hukum. "Di kampung itu pernah ada berangkat dengan Abou Tour, aman-aman saja. Makanya kita berani," ucapnya.

Ramli tak mau berpasrah diri, segala cara ia lakukan agar mendapat kejelasan. Setidaknya bila gagal berangkat, uang yang ia setor bisa kembali (refund). Bertahun-tahun ia menyisihkan uang hasil dari melaut demi pergi ke tanah suci.

Namun apa daya, saat ini ia hanya bisa mengelus dada setiap mengingat perjuangannya mengumpulkan rupiah demi rupiah. "Kita mau ibadah, ngumpulin uang untuk ibadah. Bertahun-tahun nabung buat ke Tanah Suci," ujarnya. "Kami ini orang kecil. Sehari saya itu sisihkan 20 ribu," sambungnya. (rad/bie)

Penulis: tribunkaltim
Editor: Adhinata Kusuma
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help