Anggap Misinya Selesai, Trump Tarik Kembali Pasukannya dari Suriah

Pernyataan Trump itu bertolak belakang dengan anjuran mantan Menteri Luar Negeri Rex Tillerson pada Januari lalu.

Anggap Misinya Selesai, Trump Tarik Kembali Pasukannya dari Suriah
AFP/NAZEER AL-KHATIB
Warga Suriah membawa tas di antara tenda-tenda di Al-Bil, timur kota Azaz, yang didirikan untuk menampung warga yang melarikan diri dari bekas wilayah kantong pemberontak di Douma. 

TRIBUNKALTIM.CO, WASHINGTON DC - Amerika Serikat ( AS) menanggapi pernyataan yang dilontarkan oleh Presiden Perancis Emmanuel Macron tentang penempatan pasukan di Suriah.

Dilansir Sky News Senin (16/4), Sekretaris Pers Gedung Putih Sarah Sanders, Presiden Donald Trump tetap kukuh dalam pendiriannya.

"Misi AS tidak berubah. Presiden sudah menyatakannya dengan jelas bahwa dia menginginkan pasukan ditarik secepatnya dari Suriah," ujar Sanders. Sanders melanjutkan, sekitar 2.000 pasukan Negeri "Paman Sam" di Suriah tetap dengan komitmen mereka untuk membasmi kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

"Selain itu, kami meminta sekutu regional kami untuk bertanggung jawab secara militer dan finansial untuk memastikan keamanan kawasan," beber Sanders.

Sebelumnya, Macron dalam sebuah wawancara di televisi berkata kalau penting bagi AS untuk tetap menempatkan militer di Suriah.

"10 hari lalu, Presiden Trump mengatakan AS harus menarik pasukan dari Suriah. Saya meyakinkan dia bahwa penting untuk tetap berada (di Suriah) untuk waktu lama," ucap Macron. Dalam pidatonya di Ohio 29 Maret lalu, Trump mengatakan kalau AS sudah tidak mempunyai target lanjutkan jika ISIS berhasil ditumpas.

"Kami akan pergi dari Suriah secepatnya. Biarkan orang lain yang mengurus sisanya," kata Trump pada saat itu. Pernyataan Trump itu bertolak belakang dengan anjuran mantan Menteri Luar Negeri Rex Tillerson pada Januari lalu.

Saat itu, Tillerson mengatakan kalau pasukan AS harus tetap berada di Suriah untuk memastikan adanya transfer kekuasaan dari rezim Presiden Bashar al-Assad. Sementara itu, Assad mengatakan kalau serangan yang digelar oleh negara Barat didasarkan pada "kebohongan" dari Dewan Keamanan PBB.

"Serangan AS, Perancis, dan Inggris merupakan kampanye kebohongan dan salah informasi terhadap Suriah dan sekutunya, Rusia," kata Assad di hadapan politisi Rusia. Baik Suriah maupun Rusia bersikukuh bahwa mereka tidak menggunakan senjata kimia seperti yang dituduhkan oleh Sekutu. (*)

Editor: Ahmad Bayasut
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help