Tersangka Korupsi KSOP Nunukan Nasir Ali Tidak Mau Ditahan

Sempat berdebat singkat, soal pengawalannya ke tempat tahanan, apakah perlu melibatkan Polisi? Nasir akhirnya pasrah digelandang Jaksa

Tersangka Korupsi KSOP Nunukan Nasir Ali Tidak Mau Ditahan
Tribun Kaltim/Niko Ruru
Mantan Kepala KSOP Nunukan, Muhammad Nasir Ali menunjuk wartawan yang mengambil fotonya, usai menjalani pemeriksaan di Kantor Kejaksaan Negeri Nunukan, Senin (7/5/2018) 

TRIBUNKALTIM.CO, NUNUKAN - Hendak dijebloskan ke Lembaga Pemasyarakatan Klas II B Sungai Jepun, Kecamatan Nunukan Selatan, Senin (7/5/2018), mantan Kepala Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Nunukan, Muhammad Nasir Ali memprotes langkah penyidik Kejaksaan Negeri Nunukan.

Keluar ruangan setelah menjalani pemeriksaan selama tiga jam, tersangka korupsi kegiatan rehabilitasi kapal patroli milik KSOP Nunukan ini langsung menyampaikan protes tersebut. Dia kaget melihat sejumlah wartawan yang menunggunya keluar dari ruangan pemeriksaan.

"Saya tidak mau ditahan! Banyak wartawan di sini, seakan-akan saya sudah pasti salah. Saya minta penangguhan penahanan," ujarnya disaksikan sejumlah penyidik seperti Muhammad Rusli Usman, Ali Mustopa dan Alfian.

Sambil menunjuk- nunjuk wartawan yang berusaha mengambil gambar saat dia hendak dibawa menuju ke tempat tahanan, Nasir juga menepis tangan jaksa yang berusaha merangkulnya.

Melihat Nasir yang terus memprotes dengan nada tinggi, Rusli justru bertanya balik kepadanya. "Maksud bapak apa? kami sudah beri kesempatan kemarin. Bapak tidak perlu emosi. Kalau mau minta penangguhan penahanan lalui prosedurnya. Bukan emosi seperti ini," kata Rusli.

Sempat berdebat singkat, soal pengawalannya ke tempat tahanan, apakah perlu melibatkan Polisi? Nasir akhirnya pasrah digelandang Jaksa menuju ke mobil tahanan.

Rusli yang juga Kepala Seksi Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Nunukan menjelaskan, penahanan Nasir sudah melalui berbagai pertimbangan penyidik di antaranya, dikhawatirkan tersangka melarikan diri dan menghilangkan barang bukti. "Kami tahan selama 20 hari ke depan," ujarnya.

Penyidik menahan Nasir setelah menjalani pemeriksa ketiganya. Pada pemeriksaan kemarin, dia ditanyai mengenai pengembalian nilai kerugian negara sebagaimana hasil penghitungan Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan Tarakan yang besarnya mencapai Rp 520 juta, dari nilai anggaran kegiatan sebesar Rp 620 juta. "Atas dasar ini juga kami telah memiliki dua alat bukti. Sudah cukup untuk dilakukan penahanan," ujarnya.

Dalam kasus itu, Jaksa masih melakukan pengembangan untuk mengungkap tersangka lain. Rusli mengatakan, akan ada tersangka baru dalam kasus itu.

Dalam kasus itu penyidik Kejaksaan Negeri Nunukan sejak September 2017 telah menetapkan Nasir Ali sebagai tersangka. (*)

Penulis: Niko Ruru
Editor: Mathias Masan Ola
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help