Teror Bom Surabaya

Ajak Istri dan Anak-anak Ikut Bom Bunuh Diri, Begini Sejarah Terbentuknya Keluarga Teroris

Pelaku bom bunuh diri di tiga gereja Surabaya, Minggu (13/5/2018) adalah enam orang yang merupakan keluarga, ibu, ayah, dua anak laki-laki.

Ajak Istri dan Anak-anak Ikut Bom Bunuh Diri, Begini Sejarah Terbentuknya Keluarga Teroris
TRIBUNJATIM.COM/NUR IKA ANISA
Polisi amankan kawasan Gereja Santa Maria Tak Bercela Ngagel Surabaya pada Minggu (13/5/2018) pagi 

Afektif karena kedekatan sebagai keluarga.

Kognitif karena kedekatan itu dimanfaatkan untuk menjamin loyalitas dan sebagainya.

"Dengan metode itu, mereka bukan saja menjadi (sesama) anggota sebuah kelompok teroris, tapi mereka juga menjadi saudara sekeluarga (a family relative)," imbuhnya.

Selain itu, saat seseorang telah menjadi keluarga maka akan lebih mudah membangun kepercayaan dibanding dengan orang lain.

Dengan kondisi para teroris yang dalam pengawasan aparat, gerak-gerik mereka dibatasi.

Sebab itu, mereka harus berhati-hati saat ingin menambah anggota.

Maka dari itu, pilihan yang tidak terlalu berisiko adalah memanfaatkan kekeluargaan atau melalui pernikahan.

Mengapa anak-anak dilibatkan menjadi teroris?

Kejadian serupa juga tak hanya terjadi kali ini.

Otak pelaku bom Paris, Abdel Abaoud juga mengajak adiknya Younes Abaaoud yang masih berusia 12 tahun saat itu untuk berangkat ke Suriah bergabung dengan ISIS.

Halaman
1234
Editor: Trinilo Umardini
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help