Kaltim Punya 4 Napi Teroris, Begini Tingkah Laku Mereka Dalam Tahanan

keempatnya ditempatkan bersama dengan napi kasus umum lainnya, dan tidak ditempat dalam sel khusus.

Kaltim Punya 4 Napi Teroris, Begini Tingkah Laku Mereka Dalam Tahanan
Tribun Kaltim/Christoper Desmawangga
Warga binaan di Rutan Klas II A Sempaja, Samarinda. Ilustrasi, Tribun Kaltim 

Laporan wartawan tribunkaltim.co, Christoper D

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Kalimantan Timur (Kaltim) diketahui memiliki ribuan warga binaan yang ditampung di Lapas maupun Rutan yang tersebar diseluruh daerah Kaltim.

Dari ribuan warga binaan tersebut, terdapat empat diantaranya merupakan napi kasus terorisme, diantaranya satu orang di Lapas Balikpapan, divonis 5 tahun penjara, karena terlibat aksi bom di Jakarta.

Sedangkan tiga orang lainnya di Lapas Tenggarong, dua diantaranya anak dibawah umur divonis 2 tahun penjara, dan seorang napi dewasa divonis 3 tahun penjara, ketiganya terlibat dalam kasus bom di gereja Oikumene, Samarinda.

Baca: Istri Terduga Teroris Punya Cara Aneh Saat Beli Sayur

Kendati terlibat kasus terorisme, namun keempatnya ditempatkan bersama dengan napi kasus umum lainnya, dan tidak ditempat dalam sel khusus.

Bahkan, keempatnya dapat membaur dan berinteraksi dengan tahanan lainnya, tanpa dibeda bedakan oleh pihak Lapas.

Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kemenkum HAM Kaltim, Agus Toyib menjelaskan, empat napi kasus terorisme tersebut ditempatkan di Lapas yang ada di Kaltim, karena keempatnya bukan bagian inti atau militan, keempatnya masuk dalam kategori pengikut (followers) yang masih mau menerima program pembinaan di Lapas.

Baca: Sedang Diet? 3 Makanan Ini Cocok Banget Untuk Sahur

"Keempatnya hanya followers, bukan inti jadi ditempatkan di Kaltim, bukan di Nusakambangan Lapas high risk, dan kalau mereka digabung dengan kelompok inti, bisa semakin jadi mereka," ucapnya, Rabu (16/5/2018).

Lanjut dia menjelaskan, perlakuan terhadap keemapat tahanan tersebut tidak dibedakan dengan tahanan lainnya, namun keempatnya ditempatkan di sel yang kondusif, kendati tetap bergabung dengan tahanan kasus lainnya.

"Yang jelas perlakukan sama, kita beri ruang gerak yang sama. Dan mereka juga mau membaur, bahkan saat saya di Balikpapan, saya pernah shalat bareng dengan napi kasus teroris ini, kalau yang golongan inti tidak mau shalat bareng, mereka shalat dengan kelompoknya saja," ucapnya.

Baca: Pengakuan Tetangga, Pelaku Bom di Polrestabes Surabaya Tinggalkan Hutang Puluhan Juta

Sesuai dengan pengalamanya yang pernah menjabat sebagai Kepala Lapas Tanggerang, saat itu terdapat sekitar 29 napi kasus terorisme yang tergolong kelompok inti, dan menolak progam deradikalisasi dari BNPT maupun Kemenkum HAM.

"Bahkan, kalau yang kelompok inti tidak hormat dengan petugas, karena mereka tidak suka dengan pemerintah dan aparat. Mereka juga tidak mau makan makanan dari Lapas, mereka masak sendiri, termasuk menolak remisi, mereka menolak semua apa yang dari pemerintah," urainya.

Dari pantauan pihaknya, napi kasus terorisme ini tidak menyebarkan paham atau mendoktrin napi lain dengan paham yang dianutnya,

Baca: Ceramahnya Bolehkan Bom Bunuh Diri Beredar, Ustaz Somad : Ada Kompor Meletup Viral Video Itu Lagi

"Tidak ada, karena mereka ini hanya pengikut, jadi mereka tidak ada menyebarkan pahamnya, mereka ikut dengan kegiatan di Lapas dan program lainnya," jelasnya. (*)

Penulis: Christoper Desmawangga
Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help