Kerap Bikin Keributan, Warga Demo Pengungsi di Rudenim; 75 Orang Akhirnya Dipindahkan

"Keributan mereka terdengar sampai radius 2 kilometer sampai Polsek Balikpapan Timur," ujar Mansur, Rabu sore.

Kerap Bikin Keributan, Warga Demo Pengungsi di Rudenim; 75 Orang Akhirnya Dipindahkan
TRIBUN KALTIM / NALENDRO PRIAMBODO
Puluhan aparat keamanan apel penjagaan di halaman Rudenim Balikapapan, menghadapi rencana demonstrasi puluhan warga Kelurahan Lamaru yang merasa terganggu ulah pengungsi yang membuat keributan setiap malam hingga dini hari 

"Keributan mereka terdengar sampai radius 2 kilometer sampai Polsek Balikpapan Timur," ujar Mansur, Rabu sore.

Warga menuntut dua hal, yakni, dihilangkannya benda-benda plastik, kemasan gallon dan jeriken di rumah detensi, yang berpotensi digunakan untuk membuat suara gaduh di malam hari.

Kedua, mereka belum memperbolehkan pengungsi dikeluarkan dari Rudenim, alias dibiarkan bersosialisasi dengan warga sekitar. Mereka menuntut pengungsi dipindahkan ke rudenim lain di luar Balikpapan.

Kekhawatiran sebagaian besar warga lanjut Mansur, setelah membaca berbagai artikel di dunia maya, soal perilaku negatif yang ditimbulkan para pengungsi, berpostur tinggi besar, berhidung mancung, berkulit putih ini, jika hidup bersama warga sekitar.

"Beberapa kejadian dan banyak informasi ada yang hamil di luar nikah, dan ada yang nikah siri juga,"ujarnya.

Beruntung, perwakilan ratusan aparat kepolisian, dibantu Satpol PP berhasil membujuk warga mengurungkan niat demonstrasi di Rudenim.

Sebagai gantinya, mereka diizinkan bermusyawarah dengan perwakilan Pemkot Balikpapan, Kepolisian, Kepala Rudenim, International Organization of Migration (IOM) yang mengurusi logistik imigran, dan Wakil Ketua DPRD Balikpapan, Sabaruddin Panrecalle, di hari dan tempat yang sama.

Menurut Kepala Rudenim Balikapapan, Irham Anwar, keributan berlangsung sejak Oktober 2017, saat dirinya baru menjabat di situ, dipicu kefrustrasian pengungsi karena sudah 2-3 tahun lebih terkunci dalam Rudenim, tak bisa keluar.

Hal ini berbeda dengan pengungsi di Rudenim lain, yang diperbolehkan keluar dan tinggal dalam community house.

"Disini, situasi masyarakat menolak, kami ambil keputusan makanya kunci di dalam (Rudenim), daripada negatif diluar, kami ambil pilihan yang efeknya paling sedikit,"ujarnya.

Halaman
1234
Penulis: Nalendro Priambodo
Editor: Kholish Chered
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help