Opini

Dinamika dan Tantangan Pengelolaan Sumberdaya Alam Gubernur Baru

Para pemilih menaruh harapan besar agar kandidat yang terpilih nanti akan mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat

Dinamika dan Tantangan Pengelolaan Sumberdaya Alam Gubernur Baru
Kolase
Niel Makinuddin dan Saipul Rahman 

OPINI

Dinamika dan Tantangan Pengelolaan Sumberdaya Alam Gubernur Baru

Oleh Niel Makinuddin & Saipul Rahman*

KOMISI Pemilihan Umum (KPU) telah menutup pendaftaran calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) untuk periode 2018-2023. Empat pasang kandidat Gubernur-Wakil Gubernur siap mengadu visi dan misi dalam mengambil hati pemilih di salah satu provinsi terkaya di Indonesia ini.

Para pemilih menaruh harapan besar agar kandidat yang terpilih nanti akan mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat di Kaltim dan bukan tidak mungkin akan membantu mendorong kualitas pembangunan secara nasional.

Harapan ini tentu tidak berlebihan mengingat potensi yang dimiliki provinsi ini luar biasa dibanding provinsi lainnya di Indonesia. Kaltim memiliki sumber daya alam berlimpah yang menempatkannya sebagai salah satu penyumbang devisa terbesar di Indonesia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Kaltim berada pada urutan 3 provinsi yang memberikan sumbangan terbesar terhadap ekspor nasional dalam periode Januari–Desember tahun 2017 dengan nilai US$17.633,8 juta (10,45 persen) setelah Jawa Barat US$29.178,3 juta (17,29 persen) dan Jawa Timur US$18.428,0 juta (10,92 persen),

Keunggulan ini menjadi modal utama bagi pemimpin daerah untuk meningkatkan kesejahteraan mayarakat Kaltim.  Namun demikian,  jika dilihat lebih dalam sebagian besar pendapatan ekonomi yang dihasilkan tersebut masih sangat bergantung pada sumber daya alam yang tidak terbaharukan.

Dalam catatan BPS 2017, pertambangan telah menyumbang 43,34%  dari total Produk Domestik Bruto (PDB) Kaltim tahun 2016. Hal ini dapat menggambarkan betapa tingginya ketergantungan Kaltim pada sektor yang tidak terbaharukan ini.  

Gambaran seperti yang disebutkan diatas sebenarnya tidak terlalu menguntungkan bagi pembangunan Kaltim jika dilihat dari dua hal yaitu aspek keberlanjutan sumber pendapatan dan aspek resiko lingkungan. Kedua hal ini sering kali luput dari perhatian banyak pihak ketika masyarakat terkondisikan dengan kultur pembangunan serba instan dan bersifat jangka pendek.

Halaman
123
Editor: Achmad Bintoro
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help