Dinsos Kewalahan Tangani Anak Pecandu Lem

Tenaga terapi hanya satu orang, jadi agak kerepotan menangani kasus anak-anak ngelem yang trend semakin meningkat

Dinsos Kewalahan Tangani Anak Pecandu Lem
TRIBUN KALTIM/NEVRIANTO HP
Remaja ngelem di kampung zombie di Bukit Mangkuliat, Samarinda Seberang. 

TRIBUNKALTIM.CO, BONTANG - Angka kenakalan remaja di Bontang cukup memprihatinkan.

Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Pemberdayaan Masyarakat (Dinsos-P3M) mencatat sekitar 52 anak menjadi ‘pasien’ rumah singgah.

Mereka merupakan kelompok remaja yang aktif menghisap lem. Data puluhan anak pecandu lem terekam di Dinsos P3M, selama kurun Januari-Mei tahun ini.

Rata-rata mereka merupakan anak masih berusia sekolah setara SD dan SMP.  “Selama kurun 5 bulan, ada 52 anak yang sering tertangkap ngelem kami terapi,” ujar Kadis Dinsos-P3M Abdu Safa Muha, saat ditemui belum lama ini.

Dijelaskan, fenomena isap lem dikalangan remaja cukup memprihatinkan. Safa Muha mengaku tren kasus ini meningkat dari tahun-tahun sebelumnya.

Beberapa tahun lalu, sebelum Dinsos P3M meresmikan rumah singgah, jumlah anak yang tertangkap ngelem kisaran 5-7 kasus dalam sepekan. Kini meningkat hingga 15-20 anak per pekannya.

Tren ini menurut dia, tak hanya dipengaruhi oleh faktor kondisi lingkungan. Namun, juga pergaulan remaja yang minim pengawasan dari orang tua. Kemudian penanganan remaja pecandu lem ini pun difokuskan pada aspek penanganan setelah kejadian.

“Seharusnya komprehensif. Kalau sekarang setelah berkasus baru ditangani, sejatinya sebelumnya juga harus,” papar Safa Muha yang juga mantan pendidik.

Ia menuturkan, selama ini penanganan bagi anak yang tertangkap menyalahgunakan lem langsung diboyong ke rumah singgah untuk mendapatkan konsultasi dan pembinaan.

Para anak yang masih tergolong pemula, cukup satu kali mengikuti terapi. Namun, bagi anak yang parah harus beberapa kali.

Banyak temuan anak pecandu lem membuat Dinsos P3M cukup kewalahan. Pasalnya, jumlah petugas terapi di rumah singgah milik Pemkot Bontang hanya satu orang saja. Jam pelayanan pasien pun hanya dilakukan sebanyak dua kali dalam seminggu.

“Tenaga terapi hanya satu orang, jadi agak kerepotan menangani kasus anak-anak ngelem yang trend semakin meningkat,” katanya.

Safa Muha berharap, kasus kenakalan remaja ini perlu penanganan serius lintas sektor. Sebab, urusan sosial ini melibatkan masalah pendidikan, kesejahteraan hingga ketenagakerjaan.

Diperlukan koordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), Badan Narkotika Kota (BNK), Dinas Penanaman Modal, Tenaga Kerja dan Pelayana Terpadu Satu Pintu (PTSP) untuk merumuskan masalah sosial remaja sekarang.

“Harus ramai-ramai. Misalnya karena kenakalan remaja akibat kemiskinan, makanya orang tuanya harus dicarikan kerja,” pungkasnya. (*)

Penulis: Udin Dohang
Editor: Ahmad Bayasut
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help