Home »

Opini

Opini

Quo Vadis Unmul? Respons atas Tanggapan Wakil Rektor IV Dr Bohari Yusuf

Kita merindukan Rektor yang memiliki pemikiran subjektif visioner dan kemampuan melembagakan dan berbagi visinya

Quo Vadis Unmul? Respons atas Tanggapan Wakil Rektor IV Dr Bohari Yusuf
sketsa
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Unmul Prof Dr Susilo SPd MPd dan Rektor Unmul Prof Dr Masjaya MS dalam pemberian Research Award. LP2M Research Award merupakan salah satu item yang turut disampaikan dalam acara International Conference on Tropical Studies and Its Application (Ictrops) di Grand Ballroom Hotel Aston Samarinda, akhir November 2017. 

Quo Vadis Universitas Mulawarman?

Respons atas Tanggapan Wakil Rektor IV Dr Bohari Yusuf

Oleh Dr  Jawatir Pardosi *)

Dr Jatawir Pardosi
Dr Jatawir Pardosi

Terima kasih atas tanggapan bapak Warek IV Dr. Bohari.  Bapak sudah mendeskripsikan sebagian kinerja Unmul yang memang mengalami kemajuan, ini saya setuju. Namun, pertanyaan esensial belumlah terjawab karena yang dideskripsikan berupa kinerja Unmul  lebih bersifat generik (umum).  

Pertanyaan quo vadis Unmul seyogyanya  memerlukan jawaban yang  lebih fokus bermakna esensial/utama/ primer bukan yang sekunder atau pelengkap.

Sangat disayangkan, Bapak Dr. Bohari menyatakan bahwa pemeringkatan PT  yang dilakukan oleh Kemenristekdikti adalah bersifat subyektif  dan kurang layak dijadikan rujukan untuk  menilai  keberhasilan sebuah PT karena tidak divisitasi. Malah tampak  lebih percaya versi for International Colleges and Universities (4ICU) yang sebetulnya peringkat Unmul (58) di sini pun tidak terlalu bagus. 

Pemeringkatan PT yang dilakukan oleh Kemenristekdikti  setiap tahun itu  adalah resmi,  objektif  dan valid dijadikan rujukan untuk  menilai mutu dan  keberhasilan PT. Tujuan pemeringkatan itu adalah untuk mengetahui kondisi PT di Indonesia dalam beberapa kelompok/klaster dan dari klasterisasi tersebut kemenristekdikti  membuat suatu kebijakan sesuai  dengan kelompok-kelompok PT yang ada. 

Jadi, berdasarkan pemeringkatan itu ada  PT yang terbaik  dan  ada PT yang terjelek.  Klasterisasi ini memiliki konsekwensi yang  luas pada eksistensi PT bersangkutan.  

Secara garis besar, masing-masing kelompok PT diberikan misi yang berbeda-beda. PT yang sudah bagus, diminta masuk peringkat 500 besar dunia, tetapi  PT yang belum bagus diminta untuk bisa menyelenggarakan pendidikannya sesuai dengan standar nasional pendidikan tinggi (SN-Dikti).

Unmul misalnya, masih berada pada posisi  klaster II dan juga belum diminta  untuk masuk peringkat 500 besar dunia tetapi baru berjuang untuk memenuhi standar nasional. Inilah tantangan kita bersama.

Halaman
123
Editor: Achmad Bintoro
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help