RI Duduki Peringkat ke-67 Paspor Paling Kuat, Inilah Deret Faktor yang Pengaruhi Kekuatan Paspor

Sedangkan peringkat kedua dan ketiga diduduki Malaysia (bebas visa ke 180 negara) dan Brunei Darussalam (165 negara).

RI Duduki Peringkat ke-67 Paspor Paling Kuat, Inilah Deret Faktor yang Pengaruhi Kekuatan Paspor
THINKSTOCK
Paspor Indonesia 

TRIBUNKALTIM.CO - Sebagai 'senjata' yang wajib kita bawa setiap bepergian ke luar negeri, tentu paspor dan visa tidak boleh ketinggalan.

Pasalnya, bepergian tanpa kedua benda tersebut bisa dikatakan sebagai hal yang ilegal.

Bisa kita tengok pada laporan The Henley Passport Index yang terbaru tahun 2018, kekuatan paspor Indonesia berada di peringkat ke-67.

Bersama Indonesia, peringkat ke-67 ini juga diduduki Kenya, Swaziland, dan Malawi.

Ini berarti, keempat negara bisa bepergian bebas visa ke 71 negara tujuan.

Dalam laporan versi regional Asia Tenggara, paspor Indonesia menduduki peringkat keenam.

Peringkat pertama ditempati Singapura yang dapat berkunjung ke 188 negara bebas visa.

Sedangkan peringkat kedua dan ketiga diduduki Malaysia (bebas visa ke 180 negara) dan Brunei Darussalam (165 negara).

Peringkat keempat dan kelima diduduki Timor Leste (bebas visa ke 98 negara) dan Thailand (76 negara).

Kekuatan paspor dipengaruhi oleh visa yang merupakan surat izin tinggal dan dikeluarkan oleh negara yang bersangkutan yang akan dikunjungi.

Sehingga, negara pemegang paspor yang kuat dapat mengunjungi banyak negara lain tanpa visa.

Pertanyaan yang muncul adalah, sebenarnya apa saja sih faktor yang mempengaruhi kekuatan paspor?

Kali ini TribunTravel.com telah merangkum beberapa faktor penting yang dapat mempengaruhi pemberian visa dalam kaitannya dengan kekuatan paspor sebuah negara dari laman bebasvisa.id.

1. Keamanan Negara

Faktor keamanan merupakan faktor penting untuk menentukan pemberian visa.

Pasalnya, setiap negara pasti menginginkan situasi yang aman dari ancaman asing.

Contoh yang bisa diambil adalah Amerika Serikat yang memberikan larangan atau 'banned' terhadap sejumlah negara lain yang dianggap mengancam stabilitas keamanan dalam negerinya.

2. Jumlah Penduduk

(reference.com)

Banyak negara yang tidak memberikan visa dengan mudah kepada negara yang memiliki terlalu banyak penduduk.

Pasalnya, ada ketakutan tersendiri jika visa diberikan dengan mudah kepada negara berpenduduk besar, akan timbul arus imigrasi besar-besaran ke negara pemberi visa.

Selain itu, akan membuat pihak imigrasi negara pemberi bebas visa kerepotan untuk memberikan pengawasan ekstra.

Tak heran negara berpenduduk banyak seperti India, Indonesia, dan China agak kesulitan mendapat bebas visa.

3. Faktor Timbal Balik

Faktor timbal balik antara dua negara merupakan hal yang ideal untuk kebijakan pemberian visa.

Pasalnya, sifatnya dua arah dan kedua negara telah memberikan kesepakatan bebas visa.

Indonesia dan Mali contohnya.

Faktor timbal balik ini juga bisa mengakibatkan suatu negara enggan mengeluarkan bebas visa kepada negara lain.

Inilah yang terjadi pada Israel yang baru-baru ini mengeluarkan larangan turis Indonesia untuk berkunjung ke sana.

Larangan yang diberlakukan pada 9 Juni mendatang itu adalah 'balasan' dari pelarangan turis Israel masuk ke Indonesia.

4. Mentalitas

Negara yang memiliki mental warga yang suka overstay secara sengaja atau menjadi tenaga kerja asing ilegal, cenderung susah mendapatkan bebas visa.

Bahkan mental warga yang dikenal dengan kebiasaan seperti ini akan merugikan negaranya, karena dapat dikenai pencabutan bebas visa.

5. Ekonomi

(moneypeach.com)

Negara yang memiliki kestabilan ekonomi yang kuat juga cenderung memeiliki paspor yang kuat juga.

Sebagai contoh, Inggris memberikan kemudahan memperoleh 'visa waiver' ke[ada Uni Emirat Arab dan Qatar dengan tujuan menarik investor dari negara tersebut.

6. Pemberian

Pemberian bebas visa cenderung dilakukan dengan tujuan meningkatkan pariwisata.

Hal inilah yang juga dilakukan Indonesia.

Indonesia memberikan kebijakan bebas visa kepada beberapa puluh negara di dunia untuk menarik wisatawan macanegara.

Namun, perlu diketahui kebijakan pemberian bebas visa juga harus dilakukan dengan hati-hati.

Jika pengawasan keimigrasian terlalu lemah, kebijakan ini bisa digunakan oleh warga asing nakal yang memilih tinggal secara ilegal.

7. Politik

Politik merupakan faktor yang kuat dalam mempengaruhi kebijakan bebas visa.

Terkadang, dalam memuluskan kepentingannya, suatu negara dengan senang hati akan memberikan kebijakan bebas visa terhadap negara lain yang dirasa dapat membantunya.

Contohnya, negara yang tergabung dalam 'commonwealth' seperti Singapura dan Malaysia yang selalu menduduki peringkat 10 besar paspor terkuat di dunia.

Artikel ini telah tayang di Tribuntravel.com dengan judul Indonesia Duduki Peringkat ke-67 Paspor Paling Sakti, Inilah 7 Faktor yang Pengaruhi Kekuatan Paspor

Editor: Kholish Chered
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help