Soal Moratorium Hotel, Kadis Pariwisata Sebut Pebisnis Harus Kreatif Atur Strategi

Moratorium pembangunan hotel baru di Samarinda, harus didasarkan kajian akademis.

Soal Moratorium Hotel, Kadis Pariwisata Sebut Pebisnis Harus Kreatif Atur Strategi
TRIBUN KALTIM/NEVRIANTO HP
Ilustrasi - Kamar hotel Aston Samarinda. 

Laporan Tribun Kaltim Rafan A Dwinanto

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Moratorium pembangunan hotel baru di Samarinda, harus didasarkan kajian akademis.

Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Samarinda, HM Faisal.

Menurut Faisal, hotel memiliki segmen tersendiri.

Termasuk pembangunan Hotel PrimeBiz di samping Islamic Center Samarinda.

"Di Yogyakarta, satu jalan ada berapa hotel? Satu gang bahkan banyak hotel. Di Pasar Pagi, penjual toko emas berjejer, di depannya ada PKL emas juga. Tapi, tetap saja hidup karena punya segmen masing-masing," kata Faisal.

Baca: Begini Saran Sekkot Samarinda kepada Pejabat yang Sudah Telanjur Terima Parsel

Menurut Faisal, usulan moratorium pembangunan hotel yang disampaikan Persatuan Hotel dan Restaurant Indonesia (PHRI), dilatari menurunnya perekonomian Kaltim.

"Ini kan karena kemarin ekonomi lagi turun saja, lantas meminta moratorium. Sekarang kan sudah bagus," kata Faisal.

Di saat perekonomian lesu, kata Faisal, pelaku bisnis hotel dituntut memberikan sesuatu yang unik dan inovatif.

"Kuncinya, di persaingan seperti saat ini, kita harus kreatif dan inovatif," katanya lagi.

Faisal berharap, pelaku usaha bisnis perhotelan tidak manja dalam menghadapi berbagai kondisi ekonomi.

Di Samarinda, lanjut Faisal, hotel tidak sepi sepanjang tahun. Contohnya di bulan puasa kali ini, di mana hotel-hotel selalu penuh dengan orang yang berbuka puasa.

Baca: Lama tak Terdengar Kabarnya, Manohara Kini Jalani Profesi Baru

"Ya kalau dalam setahun ada 2-3 bulan sepi ya tidak usah ribut-ribut. Itukan kondisi wajar. Bisa dilihat kok di data BPS mengenai bisnis hotel di Samarinda," tegasnya.

Sampai saat inipun, usulan moratorium perhotelan belum dikaji secara akademis.

"Moratorium harus ada kajian. Jangan karena hanya emosi saja. Kan belum pernah di kaji. Lagi pula, kapan lagi kita lihat investor membangun di kota kita," tuturnya. (*)

Penulis: Rafan Dwinanto
Editor: Trinilo Umardini
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help