Nilai Tukar Dolar Naik, PT IPB Ajukan Revisi Harga ke PT PLN

Pasalnya, bahan bakar untuk menggerakan mesin PLTU adalah batu bara, yang harga jualnya menggunakan mata uang dolar Amerika.

Nilai Tukar Dolar Naik, PT IPB Ajukan Revisi Harga ke PT PLN
TRIBUN KALTIM/GEAFRY NECOLSEN
Batu bara menjadi bahan bakar utama penggerak mesin PLTU Lati. Naiknya nilai tukar doar, berpengaruh terhadap royalti yang harus dibayarkan ke pemerintah, karena itu PT IPB mengajukan kenaikan harga jual listril ke PT PLN. 

Laporan wartawan Tribun Kaltim, Geafry Necolsen

TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG REDEB - Naiknya nilai tukar dolar Amerika Serikat, berpengaruh terhadap kondisi keuangan PLTU Lati yang dikelola oleh perusahaan konsorsium, salah satunya PT Indo Pusaka Berau, di mana Pemkab Berau menjadi pemegang saham mayoritas.

Direktur PT IPB, Najemuddin mengatakan, nilai tukar dolar berimbas pada biaya operasional PT IPB.

Pasalnya, bahan bakar untuk menggerakan mesin PLTU adalah batu bara, yang harga jualnya menggunakan mata uang dolar Amerika.

Baca: Anulir Keputusan PHBI, Takbir Keliling di Berau Akhirnya Boleh Dilaksanakan

Ini juga berpengaruh oada pembayaran royalti batubara kepada pemerintah pusat.

Karena itu, PT IPB mengajukan revisi harga jual produksi listrik, yang selama ini dibeli oleh PT Perusahaan Listrik Negara (PT PLN).

Pengajuan revisi ini dilakukan setelah pihaknya berupaya menekan biaya operasional semaksimal mungkin.

"Banyak upaya penghematan yang kami lakukan, dan sudah tidak ada pilihan lagi selain menaikkan harga," ungkap Najemuddin kepada Tribunkaltim.co, Minggu (10/6/2018)

Saat ini, harga jual energi listrik hanya Rp 787 per Kwh.

Harga ini tanpa revisi sejak tahun 2014 lalu.

Baca: Lama Cuma jadi Rumor, Baru Terungkap Sesungguhnya Ayah dari Putra Sarah Azhari, Lihat Fotonya

"Sementara dalam kurun waktu berjalan, terdapat perubahan-perubahan nilai barang dan sebagainya, termasuk fluktuasi dolar terhadap batu bara yang menjadi bahan bakar PLTU," jelasnya.

PT IPB, kata Najemuddin melakukan negosiasi ulang nilai jual daya ke PLN tersebut. PT IPB juga sudah mengajukan dokumen terkait renegosiasi harga daya listrik.

“Kita sudah open book (terbuka terhadap kondisi keuangan perusahaan) artinya segala biaya secara riil sudah kita sampaikan ke mereka (manajemen PT PLN Wilayah Kaltimtara). Perhitungan kami kalau Rp 837 rupiah itu (harga yang ditawarkan), kita masih bisa action (beroperasi), karena harga batu bara ini juga berkaitan dengan pajak atau royalti yang harus kami bayarkan ke pemerintah," tegasnya.

Bahkan Najemuddin mengatakan, jika harga ini tidak direvisi, pihaknya khawatir, IPB akan mengalami kebangkrutan.

Sementara, pemerintah juga telah menaikan Tarif Dasar Listrik (TDL), dengan harga dua kali lipat dari harga pembelian produksi listrik dari PT IPB. (*)

Penulis: Geafry Necolsen
Editor: Trinilo Umardini
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help