Tergerus Rupiah, Cadangan Devisa Indonesia Hilang US$ 9,07 Miliar

"Kalau rupiah tetap melemah (saat BI7DRR naik lebih awal), ekspektasi pasar dan rumah tangga bisa jelek

Tergerus Rupiah, Cadangan Devisa Indonesia Hilang US$ 9,07 Miliar
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Petugas memperlihatkan pecahan dolar AS yang akan ditukarkan di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Kawasan Blok M, Jakarta 

TRIBUNKALTIM.CO, JAKARTA - Nilai cadangan devisa Indonesia menyusut dalam empat bulan berturut-turut. Bank Indonesia (BI) mencatat, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2018 sebesar US$ 122,9 miliar, turun US$ 2 miliar dari posisi akhir April 2018 yang sebesar US$ 124,9 miliar.

Itu berarti di tahun ini nilai cadangan devisa telah hilang US$ 9,07 miliar bersamaan dengan tekanan kurs rupiah terhadap dollar Amerika Serikat. Cadangan devisa RI mencapai rekor tertinggi pada Januari 2018 sebesar US$ 131,98 miliar. Nilai itu naik tipis dari Desember 2017 yang US$ 130,20 miliar.

Rekor cadangan devisa tergerus sejak nilai tukar rupiah terus tertekan pada Februari 2018. Saat itu kurs rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) melewati Rp 13.500. Tekanan rupiah mencapai puncak pada Mei 2018 saat menembus Rp 14.000 per dollar.

Selain intervensi pasar menggunakan cadangan devisa, tekanan yang kuat pada kurs rupiah mendorong BI menaikkan suku bunga acuan BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRRR) dua kali sebesar 0,25% hingga menjadi 4,75%. Dua kali kenaikan suku bunga acuan turut mengembalikan rupiah ke level Rp 13.000-an.

Hanya saja, keterlambatan BI menaikkan suku bunga acuan harus dibayar mahal dengan susutnya cadangan devisa. Dengan asumsi kurs Rp 14.000 per dollar AS dan penurunan US$ 9,07 miliar, maka cadangan devisa sejak akhir Januari 2018 telah susut sebesar Rp 126,9 triliun.

Bila BI menaikkan suku bunga acuan sejak Februari 2018, bisa jadi efek pada penurunan cadangan devisa lebih kecil. Efek ke ekonomi juga dinilai kecil, terutama berkaitan dengan kemungkinan kenaikan bunga kredit perbankan seiring dengan kenaikan BI7DRRR.

Namun, BI menegaskan penurunan cadangan devisa bukan hanya untuk operasi moneter, tapi juga pembayaran utang luar negeri. Kebijakan kenaikan BI7DRRR juga tak semata mempertimbangkan rupiah, tapi juga inflasi dan kondisi ekonomi nasional.

Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Agusman mengatakan, cadangan devisa Mei 2018 mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.
Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai, kebijakan suku bunga menjadi upaya terakhir BI dalam stabilitas sistem keuangan.

Dalam kondisi perekonomian domestik penuh tekanan, kebijakan yang terburu-buru menaikkan suku bunga acuan belum tentu jadi obat mujarab. "Kalau rupiah tetap melemah (saat BI7DRR naik lebih awal), ekspektasi pasar dan rumah tangga bisa jelek," jelas Josua. (*)

Editor: Ahmad Bayasut
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help