Pilgub Kaltim 2018

Dari Pertanian hingga Pengangguran, Rusmadi-Safaruddin Jawab Pertanyaan Menohok Para Ahli

Calon Gubernur Kaltim Rusmadi Wongso yang juga ahli ekonomi pertanian, dengan tangkas menjawab soal nilai tukar petani

Dari Pertanian hingga Pengangguran, Rusmadi-Safaruddin Jawab Pertanyaan Menohok Para Ahli
IST
Prof Dr Ir Bustanul Arifin MSc bersama Calon Gubernur Kaltim Rusmadi Wongso. Keduanya hadir dalam acara Kupas Kandidat yang ditayangkan TVRI secara nasional, Kamis (7/6/2018). 

TRIBUNKALTIM.CO, JAKARTA - Prof Dr Ir Bustanul Arifin MSc melontarkan pertanyaan menohok kepada Cagub dan Cawagub Kaltim, Rusmadi-Safaruddin pada acara "Kupas Kandidat" yang disiarkan TVRI secara nasional dari studio pusat, Jalan Gerbang Pemuda, Senayan, Jakarta, Kamis (7/6/2018).

Prof Dr Ir Bustanul Arifin MSc dihadirkan TVRI sebagai salah seorang dari 4 panelis.

Ahli ekonomi pertanian dari INDEF (Institute for Development of Economic and Finance) mendapat giliran kedua bertanya, setelah Prof Dr R Siti Zuhro dari LIPI mengupas masalah demokrasi dan politik di daerah.

"Saya buka data. Tambang masih negatif. Saya apresiasi cagub dan cawagubnya karena mengatakan untuk fokus pada transportasi. Tapi, pak cagub dan cawagub, tolong jelaskan kepada kami nilai tukar petani masih rendah, masih di bawah 100. Tepatnya 93. Kalau nelayan sih masih cukup tinggi. Bagaimana cara atau strategi program, jika bapak berdua ini terpilih, dalam memberikan ruang dan tempat untuk petani mendapatkan kesejahteraannya. Karena sebagian barang masih mahal. Penghasilan petani masih belum mampu menopang hidupnya. Kami ingin dengarkan hal itu," ujar Bustanul Arifin.

Pasangan Cagub-Cawagub Kaltim, Rusmadi-Safaruddin, menghadiri acara Kupas Kandidat di studio TVRI Pusat, Kamis (7/6/2018).
Pasangan Cagub-Cawagub Kaltim, Rusmadi-Safaruddin, menghadiri acara Kupas Kandidat di studio TVRI Pusat, Kamis (7/6/2018). (IST)

Calon Gubernur Kaltim Rusmadi Wongso yang juga ahli ekonomi pertanian, dengan tangkas menjawab soal nilai tukar petani yang menjadi indikator kemiskinan.

Kata Rusmadi, faktor nilai tukar petani masih rendah, berarti biaya produksi lebih besar dari yang dihasilkan.

"Sehingga memang yang harus dilakukan; pertama, selain petani diharapkan mendapatkan harga terbaik terkait pemasarannya, perlu kepastian tentang pasar dari produksinya. Paling penting juga bagaimana menekan biaya-biaya produksi ini," kata mantan Dekan Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman, Samarinda ini.

Pertama, menurut Rusmadi, mengenai tingkat produktifitas.

"Jujur di Kaltim ada lahan sekitar 73 ribu hektar, dan baru 13 ribu hektar yang beririgasi. Jadi persoalan irigasi itu, mau tidak mau harus ditingkatkan luasan lahan yang dirigasi," ujarnya.

"Kemudian soal mekanisasi, kita tak mungkin berharap produktifitas ketika soal mekanisasi belum teratasi. Tapi saya melihat dalam rangka meningkatkan produktifitas air menjadi kunci. Kalau selama ini lahan petani rata-rata hanya untuk satu kali tanam selama setahun, kita ingin meningkatkan IP (indek pertanamannya) menjadi dua kali atau tiga kali," ujarnya.

Halaman
1234
Penulis: Muhammad Fachri Ramadhani
Editor: Syaiful Syafar
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help