Sejak Ada Bongkar Muat Batu Bara, Nelayan Manggar Mengaku Melaut Lebih Jauh

Tapi waktu itu masih sepi tidak ada kapal-kapal besar batu bara berkegiatan di laut

Sejak Ada Bongkar Muat Batu Bara, Nelayan Manggar Mengaku Melaut Lebih Jauh
Tribun Kaltim/Budi Susilo
Proses mediasi antara nelayan Balikpapan bersama perusahaan batu bara di ruang rapat Mapolres Balikpapan, Jalan Jenderal Sudirman, Kota Balikpapan pada Selasa (12/6/2018) pagi. 

TRIBUNKALTIM.CO BALIKPAPAN – Gelaran medasi antara para nelayan Balikpapan bersama perusahaan batu bara yang beroperasi di perairan laut Manggar berlangsung secara tertib, aman dan damai.

Mediasi ini diinisasi oleh Kapolres Balikpapan, AKBP Wiwin Fitra yang juga didampingi Dandim 0905 Balikpapan, Letkol Inf Muhammad Ilyas di ruang rapat Mapolres Balikpapan, Jalan Jenderal Sudirman, Kota Balikpapan pada Selasa (12/6/2018) pagi.

Hampir sebanyak puluhan nelayan turut hadir dan instasi pemerintah kota dinas yang terkait seperti Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan, serta tidak lupa Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (Ksop) Kelas I Balikpapan.

Baca: Kunjungan Yahya Cholil Staquf ke Yerusalem, Disebut Hidayat Nur Wahid Justru Untungkan Israel

Pengamatan Tribunkaltim, saat memulai mediasi, kaum nelayan diberikan kesempatan untuk menyalurkan aspirasi dan keluhan terkait dengan kegiatan bongkar muat kapal batu bara di tengah perairan laut Manggar.

Satu di antaranya Darwis (46), nelayan Manggar, mengungkapkan, sejak tahun 1970-an ayah ibunya telah bertempat tinggal di daerah Manggar. Ayah Darwis bermata pencaharian sebagai nelayan hingga membuat dirinya pun ikut terjun menekuni pekerjaan nelayan.

“Waktu kecil sudah pernah ikut melaut, sampai di tahun 1980-an saya barulah sering ikut melaut, jadi nelayan sepenuhnya. Tapi waktu itu masih sepi tidak ada kapal-kapal besar batu bara berkegiatan di laut,” tuturnya.

Baca: Ini Jenis-jenis Zakat dan Cara Menghitungnya, Jangan Sampai Salah

Selama melakukan kegiatan penangkapan ikan di laut Manggar, Darwis merasa bahagia karena belum ada aktivitas bongkar muat batu bara. Semenjak ada aktivitas kapal tanker dan ponton berada di laut Manggar jadi susah mencari ikan, susah melakukan penangkapan ikan.

“Sudah jarang lagi cari ikan ditempat itu (aktivitas bongkar muat batu bara). Mengalah cari ke arah timur, ke kawasan Tanah Merah yang jaraknya lebih jauh lagi,” ungkapnya.

Pencarian ikan ke arah Tanah Merah Teritip membutuhkan banyak waktu dan tenaga. Area pencarian ikan yang jauh membuat Darwis mengalami boros uang. Sekali melaut Darwis harus mengeluarkan uang sampai Rp 400 ribu lebih untuk pergi pulang.

Baca: Perhatikan 9 Kiat Berikut saat Bikin Kue Kering, Dijamin Antigagal!

Tangan kanan Darwis, yang memegang mic pengeras suara, menyatakan secara lantang, sudah seharusnya kegiatan bongkar muat batu bara di periaran laut Manggar dihentikan, atau dipindahkan ke tempat yang jauh seperti ke Tanjung Batu.

Halaman
12
Penulis: Budi Susilo
Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved