Libur Lebaran, Peziarah Makam Raja dan Ulama Kutai Membludak

Abdul Muthalib, Juru Kunci Makam Ulama Tunggang Parangan, mengatakan musim libur Lebaran jumlah peziarah membludak

Libur Lebaran, Peziarah Makam Raja dan Ulama Kutai Membludak
tribunkaltim.co/RAHMAT TAUFIQ
Seorang peziarah makam ulama asal Minangkabau, Tunggang Parangan di Desa Kutai Lama, Kecamatan Anggana, Kukar, dikerubuti segerombolan anak peminta-minta. Kehadiran mereka kerap dikeluhkan para peziarah. 

Laporan wartawan Tribun Kaltim.co, Rahmat Taufik 

TRIBUNKALTIM.CO, ANGGANA - Makam Raja Kutai dan ulama di Desa Kutai Lama, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) tak putus dikunjungi peziarah hingga dari luar daerah, Senin (18/6/2018).

Peziarah datang berduyun-duyun mengendarai motor, mobil pribadi dan pikap.

Di Kutai Lama ini, ada tiga makam yang dibanjiri peziarah, yakni makam ulama Tunggang Parangan, Raja Aji Mahkota I dan Raja Aji Dilanggar.

Baca: Maha Vajiralongkorn, Raja Thailand Resmi Terima Warisan Senilai Rp 422 T

Baca: Malaysia Ajukan Perubahan Proposal KA Cepat Kuala Lumpur-Singapura

Baca: Gagal Ajak Istri Pulang, Aldi Nekat Gantung Diri

Abdul Muthalib, Juru Kunci Makam Ulama Tunggang Parangan, mengatakan musim libur Lebaran jumlah peziarah membludak hingga mencapai lebih dari 1.000 orang.

"Peziarah datang ramai-ramai dengan kendaraan pikap. Bahkan sehari ada 17 pikap datang ke sini, satu pikap bisa 10-12 orang, belum termasuk peziarah yang menggunakan mobil pribadi dan motor," ujar Muthalib.

Makam ulama dan raja Kutai ini dikunjungi peziarah 24 jam.

Makam ulama asal Minangkabau, Tunggang Parangan di Kutai Lama, Anggana
Makam Raja dan Ulama di Kutai Lama, Anggana (tribunkaltim.co/RAHMAT TAUFIQ)

Banyak peziarah datang dari luar daerah, seperti Aceh, Sumatera, Kalteng, Jawa, Banjarmasin, Samarinda, Bontang, Tenggarong, Sangkulirang.

"Ada juga peziarah datang dari Singapura," tuturnya.

Ia mengatakan, peziarah mengalami lonjakan dibandingkan hari biasa. Pada hari biasa, jumlah peziarah berkisar 30-40 orang.

Baca: Perang Terus Berkecamuk di Yaman, Butuh Resolusi dari PBB

Baca: Tragis, Bocah Perempuan Ini Ditemukan Dikurung Sang Ayah di Toilet, Kondisi Tubuhnya Penuh Luka

Baca: Rayakan Idul Fitri di Kampung Halaman, Ini Cerita Mudik Pelatih Fisik Persiba Balikpapan

"Biasanya kalau usai Lebaran, bulan ruwah atah sebelum Ramadan, peziarah membludak," kata Muthalib.

Membludaknya para peziarah menjadi ladang bisnis bagi penjual bunga dan para pengemis.

Makam ulama asal Minangkabau, Tunggang Parangan di Kutai Lama, Anggana
Makam Raja dan Ulama di Kutai Lama, Anggana (tribunkaltim.co/RAHMAT TAUFIQ)

Namun kehadiran sekumpulan anak yang meminta-minta di lokasi makam kerap dikeluhkan para peziarah.

Baca: Buaya Tiga Meter Menyerang Warga di Nunukan

Baca: Jelang Debat Terakhir, Ini Catatan Kepolisian Selama Bergulirnya Tahapan Pilgub Kaltim

Baca: Jadwal Pertandingan Piala Dunia 2018 - Belgia vs Panama di Penyisihan Grup G Malam Ini

"Pemerintah harus mengatur keberadaan anak-anak ini yang mencegat setiap peziarah yang akan meninggalkan makam, bahkan mereka nekat memanjat mobil kami tadi," kata Soenarsih, peziarah asal Samarinda.

Sekadar diketahui, Tuan Tunggang Parangan merupakan ulama besar asal Minangkabau yang menyebarkan agama Islam di Kerajaan Kutai, Desa Kutai Lama pada masa pemerintahan Raja Aji Mahkota I atau Raja Mahkota Islam I tahun 1525-1600 masehi dan pada masa pemerintahan Raja Aji Dilanggar pada tahun 1600-1605. Tuan Tunggang Parangan menetap di Kutai dalam rangka syiar islam sampai wafat. (*)

Penulis: Rahmad Taufik
Editor: Amalia Husnul Arofiati
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved