Opini

Tugas Berat Gubernur Kaltim 2018, Menghindarkan Rakyat Dari Kutukan Sumberdaya Alam

kekayaan tersebut bukan saja menjadi berkah bagi Kaltim melainkan juga dapat menjadi sumber kutukan atau resource curse

Tugas Berat Gubernur Kaltim 2018, Menghindarkan Rakyat Dari Kutukan Sumberdaya Alam
Tribun Kaltim/Nevrianto
Sebuah tug boat menarik tongkang batu bara melintas di perairan sungai Mahakam, Samarinda, Selasa (24/4/2018). Anjloknya harga batubara di pasar global telah membuat ekonomi kaltim turut tersungkur dalam beberapa tahun terakhir. 

OPINI

Tugas Berat Gubernur Kaltim 2018-2023

Menghindarkan Rakyat Kaltim dari Kutukan Sumber Daya Alam

Oleh Bernaulus Saragih, PhD

Environmental Economics

Staff Pengajar Universitas Mulawarman

Bernaulus-Saragih

Kalimantan Timur (Kaltim) kaya akan sumber daya alam, namun kekayaan tersebut bukan saja menjadi berkah bagi Kaltim melainkan juga dapat menjadi sumber kutukan atau resource curse jika tidak hati-hati dalam mengelola, karena sekali sumber daya alam tersebut habis selamanya tidak akan dapat dipulihkan (unrenewable) sehingga mengancam perekonomian Kaltim dalam jangka pendek dan untuk pemanfaatan oleh generasi mendatang. Sumber daya alam (SDA) seperti minyak, gas, dan batubara berdasarkan laporan kementerian ESDM 2015 di Kaltim telah berada pada posisi deminished atau masa-masa akhir menuju pada berhenti antara 8 sampai 12 tahun mendatang, sedangkan batubara dipredikasi masih bertahan hingga 20 tahun lebih dari sekarang.

Kutukan sumber daya alam atau resource curse atau lebih populer disebut dengan Dutch Desease adalah suatu keadaan dimana terjadi kejatuhan perekonomian suatu wilayah atau negara akibat dari ketergantungan yang terlalu besar terhadap sumber daya alam, seperti migas.  Semua sumber daya difokuskan pada komoditas tersebut, baik manusia, teknologi, keuangan, dan jasa sehingga ketika sumber daya tersebut habis dieksploitasi maka terjadi kehilangan pendapatan membawa dampak pada kemiskinan massive bagi wilayah atau rakyat karena tidak adanya antisipasi.

Kalimantan Timur juga telah memasuki periode kutukan sumber daya alam terhitung awal tahun 2000 ketika satu persatu HPH dan Industri Perkayuan bangkrut diikuti dengan PHK besar-besaran, hutan telah habis dieksploitasi namun tidak ada perubahan kesejahteraan yang signifikan bagi rakyat, khususnya rakyat disekitar hutan.

Kutukan sumber daya alam ini semakin nyata sejak tahun 2015 yaitu ketika Kaltim mulai mamasuki periode dimana terjadi penurunan produksi dan harga migas sebagaimana terlihat dari data penerimaan pemerintah provinsi (APBD) dari 13 trilliun lebih ditahun 2013 menjadi hanya 7,8 trilliun rupiah ditahun 2017. Hal ini terjadi karena kontribusi migas dan pertambangan berkisar 86% terhadap penerimaan Kaltim.

Halaman
1234
Editor: Achmad Bintoro
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved