2 Tahun Kepemimpinan Neni-Basri, Bangun Rusunuwa Murah untuk Pekerja Buruh

SUARA tangis bayi Nur Hikmah memekik terdengar hingga lantai dasar Rusunawa Kelurahan Api-Api, Bontang Utara.

2 Tahun Kepemimpinan Neni-Basri, Bangun Rusunuwa Murah untuk Pekerja Buruh
Tribun Kaltim
TINJAU RUSUNAWA - Walikota Neni meninjau bangunan rusunawa di Kelurahan Api-Api yang sudah dihuni sejak setahun terakhir 

TRIBUNKALTIM.CO - SUARA tangis bayi Nur Hikmah memekik terdengar hingga lantai dasar Rusunawa Kelurahan Api-Api, Kecamatan Bontang Utara, sore itu. Nur Hikmah (23), menjadi penghuni baru di lantai dua Rusunawa sejak 2 bulan terakhir. Tangis bayi semakin keras ketika sang Ayah, Gandi mengganti popok yang baru saja dibeli satuan dari toko tak jauh dari rumahnya.

PASANGAN muda ini baru-baru saja dikarunia buah hati setelah setahun menikah. Tepat pada medio April kemarin Nur Hikmah melahirkan di RSUD Taman Husada Bontang. Berbekal Kartu Jaminan BPJS. Seluruh biaya ditanggung oleh daerah.

Nur dan Gandi, bukan pasangan ekonomi tinggi. Sang Suami, berprofesi sebagai teknisi listrik dekorasi salon. Penghasilanya tak menentu. Sesuai banyak tidaknya orderan jasa dekorasi. Sedangkan, sang Istri baru-baru saja resign dari konter seluler untuk mengurus bayinya.

Baca: Kerja di Pelabuhan Samarinda, Andi dan Istrinya Raup Penghasilan Jutaan Rupiah

Hidup mereka sederhana. Namun, cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Beruntung sewa rumah yang dihuninya tak tinggi. Mereka cukup membayar Rp 230 ribu untuk kamar 4x3 meter ini setiap bulannya.

"Kalau di tempat kemarin agak mencekik, karena Rp 500 ribu perbulan," tutur Nur seraya menggendong bayinya yang perlahan tertidur.

Walikota Bontang Neni Moerniani menegaskan Rusunawa hanya untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Sekitar 500 jiwa saat ini menetap di bangunan yang sudah berdiri sejak 2015 lalu. Bangunan terdiri dari 4 lantai. Masing-masing harga sewa bangunan menyesuaikan lantai.

Sewa untuk lantai dasar paling tinggi Rp 250 ribu, dan terendah Rp 190 ribu untuk lantai 4. "Ini paling murah, di Balikpapan saja Rp 350 ribu paling murah," ujar Neni kepada wartawan.

Baca: Pelanggaran Kampanye Pilgub di Kota Minyak Rendah, Ini Faktor yang Memengaruhinya

Neni menyadari betul tingginya harga sewa saat ini di Bontang bagi warga berpenghasilan rendah. Imbasnya warga banyak membangun pemukiman liar. Untuk itu, Neni mewanti-wanti agar peruntukkan rumah susun hanya bagi mereka yang berpenghasilan di bawah Rp 2 juta sebulan. Agar bangunan liar tak tumbuh subur.

Kurun dua tahun kepemimpinan Walikota Neni-Wawali Basri, Kota Bontang lebih tertata. Kawasan kumuh milik warga pun berangsur susut. Saat ini kawasan kumuh di Bontang dari data Dinas Perumahan, Kawasan Pemukiman dan Pertanahan (DPKP2) menyusut 50 persen. "Dulu 123 hektare, sekarang masih ada 70-an hektare lagi," ungkap Neni.

Tahun depan, pasangan Neni-Basri menargetkan Bontang bebas kawasan kumuh. Dua bangunan rusunawa sudah siap huni. Rusunawa Guntung dan Rusunawa Loktuan mampu menampung 160 Kepala Keluarga baru. Sekarang dua bangunan ini masih menunggu serah terima dari Kementerian terkait.

Dua bangunan ini istimewa. Saat daerah se-Kaltim alami defisit. Justru bangunan ini dibangun melalui alokasi anggaran kementerian.

Baca: Bertemu di Riau, Bang Zul Bocorkan Percakapannya dengan Ustadz Abdul Somad

Bahkan, tahun ini Kementerian PUPR mewancanakan pembangunan dua bangunan baru Rusunawa. Diharapakan pembangunan ini mampu membantu pemerintah menuntaskan Bontang bebas kawasan kumuh 2019. (*/don)

Penulis: Udin Dohang
Editor: Sumarsono
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved