Bontang Jadi Kota dengan Sambungan Jargas Tertinggi se-Kaltim, 2 Tahun Terpasang 13 Ribu SR

Wakil Walikota Basri Rase mewakili Pemkot Bontang hadir di Kementerian ESDM untuk menandatangani nota kesepahaman pembangunan Jaringan Gas

Bontang Jadi Kota dengan Sambungan Jargas Tertinggi se-Kaltim, 2 Tahun Terpasang 13 Ribu SR
Tribun Kaltim/Udin Dohang
Sejumlah pekerja proyek Jargas Bontang melakukan penggalian dan pemasangan pipa Jargas di jalan Parikesit, Bontang Baru, beberapa waktu. 

TRIBUNKALTIM.CO, BONTANG - Wakil Walikota Basri Rase mewakili Pemkot Bontang hadir di Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam (ESDM) untuk menandatangani nota kesepahaman pembangunan Jaringan Gas (Jargas) medio Maret lalu.

Wawali bersama 15 delegasi kabupaten/kota lainnya menerima jatah 5 ribu Sambungan Rumah (SR) dari Kementerian ESDM.

Kuota jargas 5 ribu sambungan ini menggenapi jumlah jargas di Kota Bontang menjadi 18 ribu. Capaian ini membuat Kota Bontang menjadi daerah dengan sambungan terbanyak di Kalimantan Timur (Kaltim). Jargas pertama kali terpasang pada 2011 lalu dengan 3.960 sambungan dengan pembiayaan dari APBN.

Baca: 27 Kilometer Jalan Dibangun Menggunakan Dana DAK, Ini Nilainya

Sebagai proyek percontohan, dua kelurahan ditunjuk, Gunung Elai dan Kelurahan Api-Api kala itu. Warga menyambut baik pemasangan jargas gratis. Tiga tahun berikutnya, APBD Bontang membiayai pemasangan jargas di Kelurahan Telihan. Dana sekitar Rp 11 miliar untuk membangun 1.471 sambungan.

Memasuki 2015, kebijakan pembangunan jargas berubah. Otoritas jargas menjadi kewenangan Kementerian. Menyadari ini, sejak memimpin Walikota Neni Moerniani getol melobi kementerian untuk penambahan sambungan Jargas. Setahun memimpin Bontang, angin segar berembus.

Kementerian terkait mengamini permintaan Walikota Neni. Pada 2017 Kota Bontang mendapat kuota pembangunan jargas sebanyak 8.000 SR. Jumlah ini nyaris dua kali lipat dari sambungan yang telah terpasang.

Sebanyak 8 ribu sambungan ini pun dibangun di wilayah yang belum menikmati aliran jargas. Lima kelurahan di Kecamatan Bontang Selatan dipilih untuk mendapat sambungan jargas. Sekarang, hampir semua kelurahan telah dialiri jargas.

“Alhamdulillah berkat doa dan dukungan dari masyarakat Bontang akhirnya kita bisa dapat bantuan dari APBN untuk pembangunan jargas kembali,” kata Neni Moerniaeni usai mendapat kabar dari Kementerian ESDM saat itu.

Baca: KPU Kaltim: Jika Ada Temuan, Segera Lapor ke Bawaslu atau Panwaslu

Masa transisi 2016-2017 menjadi tantangan pemerintahan Neni-Basri. Harga lifting migas merosot. Alokasi anggaran dari pusat ke daerah ikut terpangkas. Kendati demikian, pelayanan kepada masyarakat tetap harus prima.

Kunjungan ke Kementerian ESDM semakin sering dilakukan Walikota Neni. Mantan relasi selama menjabat di Komisi VII bidang energi DPR RI dihubungi. Perjuangan ini kembali berbuah manis. Memasuki awal 2018, kementerian kembali mengalokasikan pembangunan 5 ribu sambungan. “Sekarang kita kembali lagi dapat kuota gas dari kementerian,” ungkap Neni.

Rencanaya, jatah 5 ribu sambungan ini dialokasikan untuk Kelurahan Bontang Lestari. Sekarang, total sambunga jargas dua tahun kepemimpinannya mencapai 13 ribu sambungan. Masih ada beberapa kelurahan menjadi pekerjaan rumah. Sekitar 2 ribu sambungan untuk kebutuhan jargas di Bontang. “Kita menargetkan tahun 2020 nanti seluruh warga di Bontang telah menikmati Jargas,” harap Neni

Menurutnya, Bontang mendapatkan kuota yang lebih dari cukup dari SKK Migas. Yakni, sebesar 1,5 million standard cubic feet per day (mmscfd). Sementara saat ini yang baru terpakai hanya 0,1 mmscfd.

Neni mengatakan, kembali diberikannya kuota jargas tak lepas dari infrastruktur yang memadai. seluruh kelurahan sudah terpasang instalasi jargas, kecuali Bontang Lestari. Sebagai daerah pengolah gas, sebut dia, sudah semestinya ada perhatian lebih untuk Bontang. “Semua kelurahan harus dialiri jargas,” terangnya.

Baca: Rita Widyasari Dituntut 15 Tahun Penjara, Plus Pencabutan Hak Politik Selama 5 Tahun

Sebanyak 2.330 SR sudah disurvei untuk bisa diakomodasi tahun depan. Sisanya merupakan sasaran penerima baru. Tahun ini, sejatinya Bontang Lestari bisa saja mendapat jatah, namun letaknya yang jauh dari pipa induk membuat warga daerah itu harus lebih bersabar.

Jika dipaksakan, anggaran dari Kementerian ESDM bisa banyak terserap untuk membangun jaringan utama. Untuk itu, daerah yang berada di dalam kota menjadi prioritas. (*/don)

Penulis: Udin Dohang
Editor: Sumarsono
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved