Perang Dagang jadi Beban Komoditas, Logam Nikel Berhasil Cetak Kenaikan

Pertama, Nikel merupakan jajaran logam industri, boleh dibilang nikel menjadi primadona. Permintaan yang masih tinggi berhasil membuat

Perang Dagang jadi Beban Komoditas, Logam Nikel Berhasil Cetak Kenaikan
KOMPAS/B JOSIE SUSILO HARDIANTO
Proses flotasi atau pengapungan mineral tambang, seperti tembaga, emas, dan perak. Proses itu dilakukan untuk memperoleh konsentrat yang terdiri dari tembaga, emas, dan perak. Konsentrat itu kemudian dialirkan ke Pelabuhan Amamapare, dikeringkan, dan kemudian dikirim ke pabrik-pabrik pengecoran. 

TRIBUNKALTIM.CO, JAKARTA - Memanasnya perang dagang di akhir semester I-2018 menjadi sentimen negatif bagi pergerakan komoditas logam industri.

Alhasil, sepanjang enam bulan pertama 2018 ini, harga sebagian besar komoditas logam terkoreksi.

Hanya nikel yang berhasil mencatatkan kenaikan harga di semester satu lalu. Jumat (29/6), harga nikel kontrak pengiriman tiga bulanan di London Metal Exchange (LME) ada di US$ 14.900 per metrik ton. Angka ini naik 16,77% ketimbang akhir 2017 lalu.

Sementara itu, posisi timah tak seberuntung nikel. Logam industri yang satu ini mencatatkan penurunan harga sebesar 1,37% setelah harganya di akhir Juni lalu ada di posisi US$ 19.750 per metrik ton.

Aluminium pun merasakan hal yang sama. Jumat (29/6) lalu, harga komoditas logam industri yang satu ini untuk kontrak tiga bulanan di LME ditutup di level US$ 2.133 per metrik ton. Angka ini melorot 5,95% sejak awal tahun. Tembaga mencatatkan penurunan harga paling dalam, setelah melorot 8,75%. Pada akhir pekan lalu, harga tembaga hanya US$ 6.626 per metrik ton.  Apakah pergerakan ini masih bertahan di paruh kedua nanti? Para analis memiliki pendapatnya.

Pertama, Nikel merupakan jajaran logam industri, boleh dibilang nikel menjadi primadona. Permintaan yang masih tinggi berhasil membuat harga nikel tetap unggul.

Mengutip data International Nickel Study Group, analis Asia Tradepoint Futures Andri Hardianto menyebut, tingginya permintaan nikel bahkan sudah menggerus 30% stok global nikel. "Kebijakan larangan ekspor nikel di Filipina juga belum berubah, sehingga produksi masih belum kembali normal," ujar dia, Selasa (3/7).

Permintaan nikel sepanjang tahun ini didorong oleh sektor kendaraan listrik dan industri baja yang masih menggeliat, terutama di China. Sebagai konsumen nikel terbesar, produksi industri baja di bulan Mei naik jadi 81.000 ton.

"Alhasil, nikel masih mencatat defisit pasokan sebanyak 19.000 ton pada semester satu, sehingga harga menguat terus," kata Andri.  Hanya saja, Andri mewanti-wanti potensi koreksi harga di saat tensi geopolitik kembali memanas. Ia memperkirakan harga bergerak di rentang US$ 13.700-US$ 16.700 per ton di paruh kedua ini.

Kedua, Timah tak beda jauh dari sentimen pada logam industri lainnya, Direktur Garuda Berjangka Ibrahim menilai, perang dagang Amerika Serikat (AS) masih menjadi isu utama pelemahan harga timah. "Harga tertekan karena realisasi perang tarif impor semakin dekat antara AS dan China," kata dia, Selasa (3/7).

Halaman
12
Editor: Ahmad Bayasut
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved