Ritual Nemlen, 3 Hari Hanya Boleh Makan Nasi Saja, Cara Warga Wehea Menuju Kedewasaan

Ritual Nemlen dimulai dari puasa selama tiga hari, mulai dari pembukaan kegiatan sampai hari ketiga.

Ritual Nemlen, 3 Hari Hanya Boleh Makan Nasi Saja, Cara Warga Wehea Menuju Kedewasaan
Tribun Kaltim/Margaret Sarita
Ritual Nemlen 

TRIBUNKALTIM.CO, SANGATTA - Mulai Selasa (3/7/2018) hingga 13 Juli mendatang, warga suku Dayak Wehea di Kecamatan Muara Wahau menggelar ritual adat Nemlen Wehea. Sebuah ritual yang baru digelar kembali setelah 15 tahun berlalu.

Ratusan warga dari Desa Bea Nehas, Diak Lay, Dea Beq, Nehas Liah Bing, Long Wehea dan Diak Leway yang tergabung dalam masyarakat Dayak Wehea, berkumpul untuk mengikuti ritual yang artinya kemenangan dalam segala bentu dan segala bidang, untuk pendewasaan seorang lelaki.

Baca: Perempuan Ini Terkejut-kejut Melihat Sopir Grab Kejang dan Bersuara Aneh, Ooh Ternyata!

"Cerita dulu dari para tetua, anak-anak muda khususnya laki-laki yang beranjak remaja, baru bisa menikah kalau sudah melewati ritual Nemlen.Tapi, pada dasarnya Nemlen diikuti seluruh pemuda, baik yang beranjak remaja sebagai pemula, maupun tengah pemula bagi pemuda yang belum pernah ikut nemlen tapi sudah menikah, serta pemuda lain yang sudah dewasa dan sudah menikah untuk tingkatan nemlen berikutnya," Ledjie Tot, Ketua panitia sekaligus Wakil Ketua Lembaga Adat Besar Wehea.

Ritual Nemlen dimulai dari puasa selama tiga hari, mulai dari pembukaan kegiatan sampai hari ketiga. Jadi semua yang berpuasa dikumpulkan di rumah adat dan menjalankan puasa bersama-sama.

“Puasa dalam ritual ini tidak boleh makan garam, merokok dan minum air putih. Bahkan mandi maupun cuci muka. Hanya boleh makan nasi putih. Mereka yang melakukan puasa, tidak boleh mengonsumsi apa yang dilarang selama tiga hari, sampai di sore hari pada hari ketiga,” ungkap Ledjie Tot.

Baca: 5 Zodiak yang Disebut tak Bisa Berteman Baik dengan Mantan

Mereka yang telah melewati masa berpuasa di rumah adat, kemudian kembali ke Desa Bea Nehas yang menjadi tempat pusat kegiatan dengan menggunakan rakit. Mereka pun disambut di Sungai Telen oleh istri dan ibu mereka.

Dari sungai, mereka dibawa ke lapangan Desa Bea Nehas menuju masing-masing tekeak (bambu yang didirikan di lapangan dihiasi telur dan anak ayam yang sudah disembelih), untuk menjalani ritual Mengbong, yakni ritual menuju arah pendewasaan. Ditandai dengan melempar ayam jago ke udara oleh para pemuda peserta ritual Nemlen. Ayam jago yang dilempar harus terbang dan berkokok sebagai pertanda kemengan dan pertanda, si peserta sudah melalui prosesi demi prosesi Nemlen dengan baik.

Baca: 5 Fakta Dibalik Diblokirnya Aplikasi Tik Tok, Bakal Dibuka Kembali dengan Syarat . . .

"Dari pondok (rumah adat), peserta sudah membawa ayam jago masing-masing untuk ritual Memgbong," Ledjie Tot.(*)

Penulis: Margaret Sarita
Editor: Januar Alamijaya
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help