Pemenuhan DMO Batu Bara 25 Persen Merugikan Kalimantan Utara?

Ia mengatakan, pemenuhan batubara dalam negeri banyak dialokasikan untuk operasional pembangkit-pembangkit listrik milik PLN.

Pemenuhan DMO Batu Bara 25 Persen Merugikan Kalimantan Utara?
TRIBUN KALTIM/MUHAMMAD ARFAN
Aktivitas salah satu areal pertambangan batu bara di Kabupaten Bulungan beberapa waktu lalu. 

Laporan wartawan Tribun Kaltim Muhammad Arfan

TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG SELOR - Gubernur Kalimantan Utara Irianto Lambrie belum mengetahui detil alasan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengurangi kuota produksi batu bara di daerah.

Irianto menjelaskan, dirinya hanya mengetahui sedikit pengurangan itu karena pemerintah ingin meningkatkan pemenuhan batu bara dalam negeri atau domestic market obligation.

Ia mengatakan, pemenuhan batubara dalam negeri banyak dialokasikan untuk operasional pembangkit-pembangkit listrik milik PLN.

Itu pun, batu bara yang dialokasikan untuk PLN kebanyakan dari hasil ekploitasi di Pulau Sumatera.

"Kebijakan itu juga kadang tidak mempertimbangkan secara komprehensif dan tidak melihat realita di lapangan," sebutnya kepada Tribun, Kamis (5/7/2018).

Baca: 5.000 Rumah di Kelurahan Karang Rejo dan Gunung Samarinda Bakal Tersambung Jargas

Akhirnya, kebijakan pengurangan kuota itu merugikan Kalimantan Utara. Selain produksi batu baranya belum terlalu tinggi dibanding daerah penghasil lainnya di Tanah Air, dana bagi hasil yang bakal diterima Kalimantan Utara kata Irianto akan turun.

"Kemudian perusahaan-perusahaan, pada saat batubara harganya tinggi, ingin tingkatkan produksi. Ada kuota begitu, akhirnya tidak bisa. Akhirnya juga perusahaan kurangi pegawai dan jam kerja," katanya.

Atas dasar itu, Kalimantan Utara meminta kuota produksi batu baranya dikembalikan menjadi 12,5 juta ton tahun ini, menyamai kuota tahun 2017.

Baca: Sengit, Babak Pertama PSS Unggul dari Tuan Rumah dengan Skor 2-1!

"Sekarang kita diturunkan menjadi 9,3 juta ton Semua daerah juga diturunkan. Tetapi untuk Kalimantan Utara sangat terasa. Karena kita kecil aja. Mungkin di atas itu atau di provinsi lain produksinya sudah mencapai 15-20 juta ton per tahun," katanya.

Halaman
12
Penulis: Muhammad Arfan
Editor: Trinilo Umardini
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help