Pedagang Elektronik Tahan Banting dengan Menguatnya Dolar

Hendy mengklaim, para pedagang di Glodok Plaza sudah terbiasa dan punya pengalaman panjang menghadapi situasi demikian.

Pedagang Elektronik Tahan Banting dengan Menguatnya Dolar
Kolase TribunStyle
Indikator hidup mati (on - off) berlogo lingkaran dibelah garis yang selalu muncul di semua peralatan elektronik. 

TRIBUNKALTIM.CO, JAKARTA - Koreksi rupiah terhadap dollar AS membebani keuangan negara. Per akhir Juni tahun ini, cadangan devisa di posisi US$ 119,8 miliar, atau melorot US$ 3,1 miliar dibandingkan akhir Mei.

Namun, keresahan di tingkat elit belum tampak merembet ke akar rumput. Lihat saja, sejumlah peritel di beberapa pusat perniagaan elektronik Jakarta, masih yakin penjualan tetap stabil. Sebab, dominasi dolar AS diprediksikan hanya bersifat sementara.

Lagi pula, situasi seperti ini bukan kali pertama dihadapi Indonesia. Tiga tahun lalu, rupiah sempat menembus level Rp 14.693 per dolar AS.

Kini rupiah bergerak di level Rp 14.300 hingga Rp 14.400. Para pedagang barang elektronik punya jurus untuk menangkisnya.

Aliong, pengelola Rotel, toko audio di Glodok Plaza menilai, fluktuasi rupiah belum berefek ke harga barang. "Masih pakai harga lama. Jika naik mengikuti kurs, ada yang beli enggak?" tutur dia, diselingi tawa saat ditemui KONTAN, Minggu (8/7)

Hal senada diutarakan Hendy, pengelola Wim. Pemilik toko yang menjual beragam jenis televisi ini tak ambil pusing dengan pelemahan rupiah. "Selagi bisa menjaga layanan dan kepercayaan pelanggan, bisnis aman," kata dia.

Hendy mengklaim, para pedagang di Glodok Plaza sudah terbiasa dan punya pengalaman panjang menghadapi situasi demikian.

"Soal pelemahan rupiah, sih, sudah hal basi, ya," tukas dia.

Yuli, pemilik gerai Multicom di lantai II Mall Mangga Dua, juga bilang, belum ada perubahan harga produk telepon meski rupiah melemah.

"Yang berubah hanya daya beli masyarakat," ujar dia.
Di sentra penjualan barang elektronik Mall Ambassador, Kuningan, pun demikian. Harga barang belum menunjukkan kenaikan.

"Masih tetap," beber Soni, Sales Marketing Toko Taiwan Excellence.
Taiwan Excellence menyediakan produk elektronik brand Taiwan seperti Asus, Acer dan produk lainnya.

Soni mengakui ada penurunan penjualan. Tapi dia melihat faktor penyebabnya bukan akibat harga barang melainkan ada faktor lain.

Namun, Yana Suryana, Kepala Toko Felixindo Cellular berujar, jika koreksi rupiah berlangsung lama, maka cepat atau lambat harga elektronik akan menyesuaikan. "Ada barang dari luar (impor), tentu ada pengaruh," sebut dia.

Pelaku bisnis properti juga tetap optimistis, penjualan pada semester kedua tahun ini lebih baik. Salah satu katalisnya, "Aturan relaksasi kredit properti dari BI," kata Indaryanto, Direktur Keuangan PT PP Properti Tbk. (ktn)

Editor: Ahmad Bayasut
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help