Tak Punya Gedung, SMPN 1 Sepi Peminat, Peserta Didik Baru Limpahan dari Sekolah Lain

Sebagai sekolah unggulan, kini SMP Negeri 1 Tenggarong tak lagi diminati calon peserta didik baru.

Tak Punya Gedung, SMPN 1 Sepi Peminat, Peserta Didik Baru Limpahan dari Sekolah Lain
Tribun Kaltim
Aksi tandatangan dukungan untuk mendesak pemerintah segera membangun gedung SMPN 1 Tenggarong 

TRIBUNKALTIM.CO, TENGGARONG - Sebagai sekolah unggulan, SMP Negeri 1 Tenggarong tak lagi diminati calon peserta didik baru. Dalam dua tahun terakhir, SMPN 1 yang kini menumpang belajar di Gedung SMKN 2 Tenggarong sepi peminat. Selama tiga tahun ini pembangunan gedung SMPN 1 masih mangkrak.

SMPN 1 hanya mendapatkan calon peserta didik dari limpahan sekolah lain yang sudah kelebihan daya tampung, salah satunya SMPN 3 Tenggarong.

Muliansyah, Panitia Penerimaan Peserta Didik Baru SMPN 1 Tenggarong mengatakan, tahun ini kuota SMPN 1 sebanyak 194 siswa, sedangkan pendaftar yang betul-betul berminat ke SMPN 1 berjumlah 95 siswa, sisanya dapat limpahan dari SMPN 3 Tenggarong.

Baca: Donasi Pendukung Najib Kumpulkan Rp 1,7 Milliar, Ada yang dari Indonesia

"Beruntung kami masih dibantu lewat jalur prestasi siswa mandiri yang diadakan SMPN 1 Tenggarong sebelum pelaksanaan PPDB online. Kami mendapat 94 peserta didik, jadi kapasitas siswa kelas 7 tahun ajaran ini sebanyak 288 siswa dengan 9 rombel," ujar Muliansyah, Senin (9/7).

Pada pendaftaran peserta didik baru tahun lalu, SMPN 1 juga mendapat peserta didik buangan dari SMPN 2 dan SMPN 3 Tenggarong, sedangkan kuota yang disediakan tahun lalu sebanyak 266 siswa, terdiri 230 siswa lewat jalur PPDB online dan 36 orang dari bina lingkungan.

Sementara itu, pendaftar yang ke SMPN 1 hanya 170 peserta didik, sisanya dapat limpahan dari SMPN 2 dan SMPN 3. "Bahkan tahun kemarin, dari 230 peserta didik kami yang daftar ulang, sekitar 54 orang mengundurkan diri dan pindah ke sekolah lain. Sehingga setiap kelas hanya terisi kurang dari 32 orang," tuturnya.

Sepi peminat di SMPN 1 Tenggarong ini dipengaruhi kondisi sekolah yang masih menumpang di gedung SMKN 2. Selain itu, jam masuk siang yang berlaku di SMPN 1 membuat peminat makin sepi.

Baca: Usai Laga Timnas U-19 Indonesia Kontra Thailand, Peristiwa Tak Diinginkan Terjadi di Dalam Stadion

Sebelumnya, Kepala SMPN 1 Tenggarong, Mustangirun mengakui, terjadi penurunan peminat di SMPN 1 dalam 2 tahun terakhir. "Pendaftar memang turun, kalau dulu sampai 520 orang lebih yang ingin masuk ke sini," katanya.

Jika dibandingkan SMAN 1 Tenggarong yang pembangunan gedungnya juga mangkrak, namun SMAN 1 lebih beruntung karena masih bisa belajar di gedung sendiri. Sedangkan gedung SMPN 1 dibongkar semuanya sehingga tidak ada tempat untuk belajar, selain menumpang di sekolah lain.

Sebagai pihak yang menumpang, Mustangirun menyadari kerap merasakan hal tidak enak. Ia berharap dalam waktu 1-2 tahun ke depan, gedung SMPN 1 ini bisa dibangun dan ditempati. Selama 3 tahun ini murid SMPN 1 belajar siang hari mulai pukul 13.30-17.30, bergantian dengan murid SMKN 2 sehingga jam pelajaran terpaksa dikurangi.

Baca: Pengakuan Nakhoda Kapal Kayu di Danau Toba: Sering Setor Duit hingga Abaikan Aturan

"Kalau waktu masuk pagi dulu, satu jam pelajaran memakan waktu 40 menit, sekarang dikurangi jadi 30 menit, itupun kita siasati untuk mata pelajaran Penjaskes terpaksa dilaksanakan pagi hari, kalau olahraga digelar sore kami malah kesulitan karena lapangannya agak jauh tempatnya dari lokasi sekolah (SMKN 2)," ucap Mustangirun. (*)

Editor: Sumarsono
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help