Pembunuh Orang Utan Divonis 6-7 Bulan Penjara, COP: Putusan Tak Pertimbangkan Nilai Konservasi

"Ada juga info dari medsos dan warga, yang gak terlapor kami yakin banyak," katanya.

Pembunuh Orang Utan Divonis 6-7 Bulan Penjara, COP: Putusan Tak Pertimbangkan Nilai Konservasi
Greenpeace/ Ulet Ifansasti
Jumlah orangutan di Indonesia terus menurun. Dari estimasi terbaru dalam laporan Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) Orangutan Indonesia Tahun 2016 yang diluncurkan hari ini, dinyatakan kepadatan populasi orangutan di daratan Kalimantan (termasuk Sabah dan Sarawak) menurun dari 0,45-0,76 individu/km2 (PHVA 2004) menjadi 0,13-0,47 individu/km2. 

“Semestinya UU Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dipandang sebagai Undang-Undang yang sangat penting untuk menjaga keberlangsungan konservasi di Indonesia.”, ujar Ramadhani.

Selama ini, konflik antara dua primata yang kode DNA-nya 90 persen lebih identik ini, dipicu rusaknya, habitat, karena alih fungsi hutan, utamanya karena pertambangan dan perkebunan sawit.

Walaupun, lembaganya tak spesifik menghitung berapa luas lahan yang dibutuhkan untuk satu individu orangutan, dari pantauan mereka, habitat orangutan di Kalimantan, khusunya Indonesia, tersisa di dua tempat.

Di Kalimantan Tengah, Kabupaten Seruyan dan Katingan. Dan Kaltim, membentang dari Kecamatan Muara Wahau hingga Kabupaten Berau yang masuk dalam landscape hutan Kutai.

"Beberapa kasus, kalau kita lihat peta, kita zoom out, sekeliling (habitat orangutan) tidak ada hutan lagi. Kalau dulu (semisal) bermain bola satu lapangan bola besar, ketika (hutan) dibabat menjadi seluas lapangan futsal, dan makin kecil seperti lapangan bulu tangkis. Ketika kecil, menjadi konflik (dengan manusia)," urai Ramadhani.

Selain dua kasus pembunuhan yang sudah diadili, mereka mencatat sejumlah konflik manusia dan orang utan.

Salah satunya terjeratnya orang utan di lahan enclave taman nasional Kutai (TNK) awal 2017 lalu.

Termasuk berbagai cerita orang utan masuk perkampungan warga di Kecamatan Kongbeng, Kutai Timur, dan penyerangan orang utan ke penduduk di Muara Badak beberapa waktu lalu.

"Ada juga info dari medsos dan warga, yang gak terlapor kami yakin banyak," katanya.

Dari kacamata COP sendiri, penegakan hukum yang berat bagi pelaku pembunuhan orang utan, menjadi pintu masuk membuka pandangan masyarakat soal kerusakan hutan yang terjadi di Indonesia.

Halaman
1234
Penulis: Nalendro Priambodo
Editor: Kholish Chered
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help