Darurat Narkoba

Walikota Samarinda Siap Jadi Relawan Anti-Narkoba

Walikota Samarinda Syaharie Jaang mengaku sedih dengan kondisi Samarinda yang masih berada di puncak.

Walikota Samarinda Siap Jadi Relawan Anti-Narkoba
TRIBUN KALTIM/CHRISTOPER DESMAWANGGA
Walikota Samarinda, Syaharie Jaang memberikan penghargaan kepada Kepala Biro Tribun Kaltim cabang Samarinda, Fransina Luhukay yang dinilai berjasa dalam pemberantasan narkoba di bidang media, Kamis (12/7/2018). 

Laporan wartawan tribunkaltim.co, Christoper D

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Walikota Samarinda Syaharie Jaang mengaku sedih dengan kondisi Samarinda yang masih berada di puncak, terkait dengan peredaran dan penyalahgunaan narkoba se Kaltim.

Hal itu disampaikan Jaang saat menghadiri Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) 2018 yang digelar oleh Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Samarinda, di hotel Aston, Kamis (12/7/2018).

"Sampai merinding saya saat dengar laporan ibu Siti (Kepala BNNK Samarinda), nanti lain kali saya diajak juga, saya siap jadi relawan antinarkoba," ucap Jaang, Kamis (12/7/2018).

Dia menilai, saat ini narkoba telah masuk keseluruh sendi elemen masyarakat, bahkan aparat negara seperti TNI dan Polri pun tak luput dari gangguan narkoba, termasuk aparatur sipil pemerintahan.

Baca: HANI 2018, BNNK Samarinda Beber Ada 12 Ribu Orang Tewas Akibat Narkoba

"Kalau narkoba sudah masuk ke TNI atau Polri, kayak apa mereka mau jaga negara, ada juga Bupati yang ketangkapan pakai narkoba sama Kepala Dinas, jangan sampai di Samarinda seperti itu, jokan bala," ungkapnya.

"Kita juga pernah kejadian, ada pegawai Pemkot yang nyabu di kantor, ngakunya kerja lembur, sekalinya pakai narkoba," tambahnya.

Lalu, dia juga pernah mendapati laporan dari bawahannya mengenai pembicaraan ibu-ibu rumah tangga tentang narkoba, yang mengatakan suami mereka menggunakan sabu agar kuat.

"Ada juga ibu ibu ngerumpi soal narkoba, katanya suaminya pakai sabu agar kuat, ini kan bahaya sudah, apalagi ibu ibu sudah terlibat narkoba, mau jadi apa anak-anaknya," terangnya.

"Padahal sebenarnya ibu-ibu ini adalah dokter, guru, ahli akutansi, dan ustazah dalam rumah tangga, karena mereka ini yang didik anak, ibu punya peran penting di rumah tangga," tambahnya.

Baca: Lebaran Sudah Lewat Tapi Tiket Surabaya-Balikpapan Masih Mahal, Tembus Rp 3 Juta!

Selain itu, dia juga pernah mendapatkan laporan bahwa anak usia pelajar SMP kedapatan mabok lem dan minuman keras oplosan, saat ditanya cita-citanya, anak itu menjawab ingin jadi teroris.

Hal ini membuatnya tambah sedih dan miris dengan kondisi Samarinda saat ini.

"Ada juga pelajar yang terjaring petugas, lalu tulisan OSIS diganti jadi ISIS, makanya saya perintahkan kepada Disdik agar rutin memeriksa tas pelajar termasuk isi ponselnya," tegasnya.

"Kita dukung penuh langkah maupun kebijakan dari BNN maupun kepolisian dalam pemberantasan narkoba," tutupnya. (*)

Penulis: Christoper Desmawangga
Editor: Trinilo Umardini
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved