Investor Tidak Berminat 19 Blok Migas

Kelima blok yang diminati tersebut adalah Blok Air Komering (Onshore Sumatra Selatan), Blok Bukit Barat (Offshore Natuna).

Investor Tidak Berminat 19 Blok Migas
(Hand out/Total E&P Indonesie)
Anjungan Lepas Pantai Jempang Metulang (JM1) di Lapangan South Mahaham, di Blok Mahakam, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur mulai memproduksi gas dan kondensat sejak Jumat (10/7/2015). Tampak Rig Hakuryu 10, alat dioperasikan Total E&P Indonesie, sedang mengebor di Platform Jempang Metulang Blok Mahakam. (Hand out/Total E&P Indonesie). 

TRIBUNKALTIM.CO, JAKARTA - Bisnis minyak dan gas bumi (migas) mengirim sinyal lampu kuning.

Setelah Chevron Pacific Indonesia dipastikan tak memperpanjang kontrak di Blok Makassar Strait, perusahaan migas tampaknya tak juga berminat mendapatkan blok baru. Padahal, pemerintah melelang 19 blok migas tahun ini.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Djoko Siswanto mengatakan, sejak dibuka pada awal tahun ini hingga penutupan masa lelang blok migas reguler pada 3 Juli 2018, tidak ada satu pun perusahaan yang mengembalikan dokumen lelang kepada pemerintah.

Padahal, saat proses pembelian dokumen lelang, kata dia, sudah ada tujuh perusahaan yang mengambil dokumen lelang pada lima blok migas.

Kelima blok yang diminati tersebut adalah Blok Air Komering (Onshore Sumatra Selatan), Blok Bukit Barat (Offshore Natuna).

Kemudian Blok Andika Bumi Kita (Offshore Jawa Timur),  Blok South East Mahakam (Offshore Kalimantan Timur) dan Blok Ebuny (Offshore Sulawesi Tenggara).

Khusus Blok Andika Bumi, pemerintah menerima penawaran dari tiga calon investor asing.

Dengan kondisi tersebut, Djoko menyatakan, pemerintah masih melakukan evaluasi apakah akan memberikan perpanjangan waktu bagi para pembeli dokumen lelang.

"Ada kewenangan Dirjen untuk bisa memberikan perpanjangan. Sebelum diputuskan, panitia akan rapat dulu, apa permasalahannya," ungkap dia, Rabu (11/7/2018) lalu.

Pemerintah juga akan memanggil para perusahaan yang telah membeli dokumen lelang. "Kami tunggu laporannya dulu, kenapa mereka tidak memasukkan (dokumen lelang). Ini lagi dipanggil," kata Djoko.

Halaman
12
Editor: Ahmad Bayasut
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About us
Help