Piala Dunia 2018

Prancis Raih Tropi Piala Dunia, Sang Pelatih Ungkap Rahasia Bisa Kalahkan Kroasia

TROFI Piala Dunia 2018 mungkin tak akan bisa diraih oleh Prancis, jika di final Piala Eropa 2016 lalu bisa mengalahkan Portugal.

Prancis Raih Tropi Piala Dunia, Sang Pelatih Ungkap Rahasia Bisa Kalahkan Kroasia
AFP/ADRIAN DENNIS
Pelatih Perancis Didier Deschamps bersama pemainnya merayakan kemenangan melawan Krosia dalam pertandingan Final Piala Dunia 2018 di Stadion Luzhniki, Moskow, Minggu (15/7/2018). Perancis menjadi juara dunia sepak bola setelah mengalahkan Krosia 4-2. AFP PHOTO/ADRIAN DENNIS 

TRIBUNKALTIM.CO - TROFI Piala Dunia 2018 mungkin tak akan bisa diraih oleh Prancis, jika di final Piala Eropa 2016 lalu mereka bisa mengalahkan Portugal.

Ya, Pelatih Les Bleus, Didier Deschamps menyebutkan rahasia keberhasilan timnya mengalahkan Kroasia 4-2 pada final Piala Dunia 2018 di Stadion Luzhniki, Moskow, kemarin tak bisa dilepaskan dari bayangan pahit dua tahun lalu saat Les Bleus yang jadi tuan rumah takluk di tangan Portugal 0-1 di babak perpanjangan waktu.

Ketika itu, Prancis mendominasi permainan sampai 59 persen, dengan melepaskan delapan tendangan akurat, berbanding empat tendangan dari Portugal. Tapi serangan balik Portugal lewat gol Eder di perpanjangan waktu akhirnya mengubur harapan Prancis menjadi juara.

Baca: Meski Gagal Juara, Ada 3 Hal Positif Dibalik Pencapaian Luka Modric Cs Menurut Media Kroasia

Sebuah kekalahan yang sangat menyakitkan, kata Deschamps, tapi telah menjadi pondasi kokoh untuk meraih gelar juara Piala Dunia kedua kalinya, kemarin.

"Dua tahun lalu, itu sangat-sangat menyakitkan. Tapi mungkin jika bisa jadi juara saat itu, kami tak akan jadi juara saat ini. Kami belajar banyak semenjak itu. Selama 55 hari, kami telah melakukan banyak pekerjaan. Ini adalah penobatan tertinggi," ujar Deschamps yang telah menukangi Prancis sejak 2012 ini.

Ia mencoret 14 dari 23 pemain di Euro 2016 lalu. Baginya yang penting adalah kekompakan tim, dan bukannya kualitas individu tapi berpotensi merusak tim.

Itu juga di antaranya yang melatar-belakangi keputusannya tak memanggil sejumlah pemain bintang seperti Karim Benzema, Anthony Martial, Alexandre Lacazette, dan Dimitri Payet.

Sebagai gantinya, ia mendatangkan banyak pemain muda, dan merumuskan kembali filosofi bermain, menjadi lebih bertahan, sekalipun banyak dikecam.

Banyak yang ingin melihat Les Bleus bermain agresif, dan atraktif, dengan harapan hal itu bisa mendatangkan trofi. Seperti halnya Tiki-taka ala Spanyol di Piala Dunia 2010, dan tim Panser Jerman di Piala Dunia 2014 yang tampil sangat mobile, dengan para gelandang serba-bisa, dan kiper merangkap swiper.

Baca: Sensasi Nonton Langsung Laga Final di Stadion Luzhniki yang Jadi Inspirasi Bung Karno

Prancis sebenarnya berlimpah dengan para penyerang bertalenta. Tapi Deschamps melihat gaya agresif itu bukan buah kunci untuk mencapai sukses. Bagi mantan gelandang bertahan yang membawa Prancis juara di Piala Dunia 1998 lalu ini, jalan untuk menjadi juara akan lebih mudah digapai jika punya pertahanan yang bagus.

Halaman
12
Editor: Sumarsono
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved